BESAR DAN MAHA BESAR
Selama ini dalam pikiran kita bila ada sesuatu yang besar, maka sontak kita secara tidak sadar sebenarnya membandingkan sesuatu tersebut dengan sesuatu yang lain yang sudah ada sebelumnya dalam pikiran kita, kalau kita sebut saja A besar, berarti kita sudah punya file yang lain misalnya B yang kecil yang menjadikan kita mengucapkan A tadi besar. Teringat kita masa anak anak saat bermain di halaman rumah kita, saat itu kita rasakan bahwa halaman tersebut begitu besarnya, padahal saat kita dewasa saat kita melihat halaman itu kembali seolah olah halaman itu sudah mulai terasa kecil, karena tanpa sadar kita sudah membandingkan halaman itu dengan ukuran diri kita, yang tentunya perbandingannya lebih kecil.
Ini yang kita rasakan dengan melihat secara fisik, dan itu tidak dapat tidak akan terekam ke dalam file otak kita dan merubah sikap kita terhadap sesuatu yang tadinya kita anggap besar ternyata sekarang hanya kecil saja.
Nah … dalam suasana spiritual bagaimana? Apa sebenarnya arti besar (tidak usah dulu maha besar)? Apakah dalam spiritual makna besar harus juga ada pembanding? Lantas apa dengan apa yang mau dibandingkan? Sementara nilai nilai spiritual tersebut sudah memang ada di dalam benak kita masing masing.
Saat kita menghayati makna besar dalam berspiritual menurut saya, kesadaran kita; kita bawa ke dalam suatu suasana kecil sebenarnya, sang Aku yang tadinya seperti dominant (besar) kita kecilkan (resesifkan) , dengan bahasa spiritualnya kita tundukkan pada yang lebih besar. Pada saat itu sang Aku mengerti apa makna besar. Saat sang Aku sudah memahami arti besar, mulailah sang Aku dituntun oleh Allah untuk memahami yang lebih dari besar, yakni Maha Besar. Saat itu sang Aku digiring oleh Allah sebenarnya ke maha kecil bahkan menjadi tidak ada sama sekali. Sehingga saat itu sudah tidak ada lagi sang aku karena sangat kecilnya yang tinggal hanya kesadaran, ya sebuah kesadaran bahwa sang aku berada dalam liputan Allah, itu saja. Lantas lambat laun kesadaran itupun melihat dengan sadar bahwa ia sudah bersimpuh didalam Allah yang Maha Besar. Saat itu sang aku mulai merasakan bahwa ia tidak bisa berbuat apa apa, sang aku tak berdaya saat Allah menyujudkannya, menggetarkannya serta menangiskannya. Nah saat itu sang aku menikmati sebuah suasana yang tentram, suasana nyaman, damai, dan bahagia yang tak terkatakan, dan tak ingin beranjak dari suasana itu sedikitpun. Inilah buah dari kepahaman atas Allah Maha Besar.
Beginilah salah satu yang saya rasakan saat mengikuti pelatihan sholat khusuk di Cilegon hari Minggu 22 April yang lalu dengan Ust. Deka. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada Ust. Deka yang mau membimbing saya dan rekan rekan lainnya dalam pelatihan tersebut.
Kepada Allah saya mohon ampun. Kepada rekan rekan mailist mohon maaf bila ada kekeliruan penyampaian saya.
Wallahu alam
Wassalam
M. Husaini (Samarinda)
