:: topengdigital ::

May 4, 2007

Gybraltar

Filed under: Qolbu

Tadi waktu shalat Dhuha di masjid kampus, tiba-tiba saja aku merasakan semangat yang begitu menggelora pada pasukan muslim di Gybraltar.

Gybraltar adalah nama sebuah tempat yang sangat bersejarah, karena di tempat itulah pasukan yang dipimpin oleh Shalahuddin Al Ayyubi terdesak oleh pasukan musuh. Di depan musuh menghadang, sementara di belakang adalah lautan dengan kapal-kapal yang siap membawa para pasukan melarikan diri. Tapi apa yang dilakukan oleh Sang Komandan? Beliau justru membakar kapal-kapal tersebut dengan tujuan menghalangi keinginan pasukan untuk melarikan diri.
Hanya ada satu pilihan : BERJIHAD atau MATI !
Gybraltar adalah saksi bisu tentang keberanian manusia, tentang keyakinannya, tentang pengorbanannya, tentang kepahlawanan, tentang “bersedia melakukan apa saja untuk Allah.”.

HADAPI ! dan JANGAN PERNAH LARI !
Apapun resikonya, hadapi dengan berani ! Sebab sesungguhnya Innallaha ma’ana. Allah selalu bersama kita.
Ya Allah, sekarang aku mengerti bahwa sekarang adalah saat bagiku untuk berjuang di jalan-Mu. Mengajak sebanyak mungkin orang kembali ke fitrah, untuk mengembalikan ketaatan hanya pada-Mu. Untuk berjihad fi sabilillah, mengajak orang kembali ke peran masing-masing menjadi khalifah di muka bumi, berkarya untuk membangun peradaban manusia. Tidak ada kata mundur.
SEMANGAT !

Alysha

Kuantitas Or Kualitas ?

Filed under: Qolbu

Barusan dibangunkan Allah jam 03.00. Tiba-tiba saja ketika sedang wudhu, aku dapat pemahaman tentang keutamaan dzikir, sadar penuh. Sekarang aku tahu salah satu alasan kenapa jalanku menuju Tuhan sangat mudah. Kuncinya adalah di dzikir, sadar penuh.

Dalam hal ritual, ibadahku biasa saja. Shalat 5 waktu, qabliyah dan ba’diyah, tahajud meski hanya 2 rakaat, tapi tidak pernah kutinggalkan. Kadang2 shaum Senin-Kamis. Aku tidak punya amalan wirid 5000 kali seperti yang dilakukan orang-orang. Tapi setiap kali mau tidur aku selalu berusaha ‘nyambung’ ke Allah.

Ada seorang teman yang ingin melihat amalanku sehari-hari. Aku bilang : “ Kamu tidak akan menemukan amalanku yang dahsyat, semua amalanku standard aja.”
“Masa’ sih?. Tapi aku lihat kamu beda. Kalau diskusi sama kamu, dalem banget kajiannya tentang Allah.”

Amalanku biasa saja, tapi Allah memberi hasil nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kuncinya adalah di kesadaran penuh. Meskipun tahajudku hanya 2 rakaat, tapi ketika shalat tahajud itu aku berusaha mengarahkan kesadaranku penuh menghadap pada-Nya, selalu berusaha khusyu’ di setiap shalat meski tidak selalu berhasil.

Beberapa orang melakukan banyak ritual ibadah, tapi kesadarannya tidak penuh ke Allah. Sebagian ingat Allah, sebagian lagi ingat kerjaan, ingat pasangan, ingat anak, ingat kehidupan sehari-hari. Mereka menekankan

kuantitas, sedangkan aku menekankan kualitas. Ibadahku biasa saja, tidak banyak, tapi aku selalu berusaha sadar penuh ke Tuhan setiap waktu. Baik ketika makan, tidur, berjalan, di angkot, di kampus, di kost-an, di masjid, lagi kuliah, lagi ngobrol, lagi kerja, lagi nonton teve, aku selalu berusaha mengarahkan kesadaran kepada-Nya. Berusaha ingat Allah 24 jam. Dengan demikian tidur pun bisa dianggap ibadah, makan pun juga dianggap ibadah dan seterusnya. Sementara beberapa orang meski melakukan ritual ibadah, tapi ingatannya ke Allah hanya sebentar. Masih didominasi oleh ingatan ke yang lain. Jadi jangan iri jika jalanku menuju Tuhan sangat mudah. Seperti jalan tol.

Dan itu semua bukan karena ibadahku, bukan karena usahaku. Semua itu semata-mata kehendak Allah saja. Aku hanya bersedia untuk digunakan oleh-Nya. Aku bersedia pikiranku, tubuhku, hatiku dialiri oleh-Nya. Hingga akhirnya aku bisa ingat Dia all the time, bisa semangat 45 dalam beribadah ritual, bisa full energi dalam bekerja dan kuliah dalam rangka mengemban amanat-Nya menjadi Khalifah untuk membangun peradaban. Aku bukan malaikat yang setiap hari harus ibadah ritual. Aku manusia biasa. Tidak akan kau temukan hal yang istimewa pada diriku.

Setiap kali ada setitik rasa sombong dalam diriku, maka Allah menegurku dengan menghalangiku untuk ‘nyambung’ pada-Nya. Terasa ‘garing’ dan sangat sulit untuk ingat Dia terus. Setiap kali aku lupa pada-Nya walau hanya sedetik, maka dikirim-Nya setan dalam dadaku sehingga aku jadi malas, aku mudah marah, mudah tersinggung, kecewa, sakit hati. Itulah cara Allah mengajariku untuk selalu dzikir, mengarahkan kesadaran penuh kepada-Nya.

Bisa ingat terus ke Allah all the time juga bukan karena usahaku. Yang kulakukan hanyalah minta pada-Nya agar di dzikirkan.

Alysha

Masuk surga karena rahmat Allah atau karena amal sholeh

Filed under: Qolbu

Dengan nama Allah yang Maha Baik.

Kemarin waktu sholat jumat, sang khotib menceritakan sebuah hadits tentang seseorang ulama yang hendak masuk surga.

Allah berkata “Wahai malaikat, masukkan dia ke surga karena rahmat-KU”

Sang ulama protes. “Kenapa karena rahmat-Mu? Bukankah aku telah banyak berbuat amal sholeh?”.
Lalu Allah berkata “Kalau begitu, wahai malaikat! coba timbang besar mana nikmat matanya dengan amal sholehnya selama ini!”
Setelah ditimbang ternyata masih berat nikmat mata. Sang Ulama langsung memohon ampun atas kekeliruannya dan akhirnya masuk surga.

Kemudian sang khotib menyimpulkan kita masuk surga bukan karena amal sholeh yang telah kita lakukan tapi karena nikmat Allah. Tadi pagi lihat sebuah buku di Toko Buku yang berjudul “Masuk Surga Tanpa Hisab”. Buku tersebut juga menceritakan hadist yang sama.

Cerita yang bagus untuk sebuah motivasi. Namun sayang, sedikit bertentangan dengan Al-Qur’an. Banyak ayat dalam Al-Quran yang menyatakan kita dimasukkan ke surga disebabkan amal sholeh yang kita lakukan.

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Maka bagi mereka surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. (Q.S As Sajadah (32) :19)

….tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka Itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi (dalam syurga). (Q.S. Saba’ (34) : 37)

….dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 43)

….masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S. An-Nahl (16) : 32)

Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. (Q.S. Adz-Zukhruf (43) : 72)

Kita masuk neraka juga akibat perbuatan kita sendiri :

….Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. (Q.S. Al-An’am (6) : 70)

Secara langsung perbuatan kitalah yang mengantarkan kita ke surga atau neraka. Tapi perlu diingat bahwa kita dapat berbuat baik adalah berkat nikmat berupa petunjuk dan bimbingan dari Allah. Kalau bukan karena nikmat (petunjuk) dari Allah tentu kita bisa tersesat dari jalan yang lurus. Jadi bisa dikatakan secara tidak langsung kita masuk ke dalam surga karena rahmat Allah SWT (atau lebih tepatnya karena nikmat Allah).

“Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka)” (Q.S. Ash-Shaffaat (37) : 57)

Nikmat yang mana? Karena ada banyak nikmat Allah. Tentu saja yang dimaksud adalah nikmat berupa petunjuk kepada iman dan islam. Bukankah nikmat terbesar kita saat ini adalah nikmat iman dan islam?

“….Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku padamu dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu.” Q.S. Al-Maidah (5) : 3

“… Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui
lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al Hujurat (49) : 7-8

“…takutlah kepada-Ku dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk”. (Q.S. Al-Baqarah (2) :150).

Jadi kesimpulannya, Jika dikatakan kita masuk surga karena rahmat (nikmat) Allah adalah benar. Tapi jika dikatakan kita masuk surga BUKAN karena amal sholeh yang kita lakukan adalah salah. Amal sholeh adalah penyebab langsung sedangkan nikmat Allah adalah penyebab tidak langsung. Bukankah kita bisa beramal sholeh juga karena nikmat Allah berupa iman, Islam, nikmat kehidupan dan kesehatan?






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer