dicopy paste dari milis dzikir
Untuk berperang melawan musuh, maka kita harus dapat melihat dan mengenal karakter musuh kita. Selama ini kita sering berperang namun tanpa melihat siapa sebenarnya yang diperangi dan dengan senjata apa. Ibarat berperang, membawa aneka senjata yang canggih namun dengan mata tertutup dan menembakkan dengan arah yang tidak tepat. Selama ini kita banyak membaca dan belajar tentang hawa nafsu tetapi kita lupa bahwa musuh besar kita yaitu iblis terus mengembangkan strategi tempur, metode, kecanggihan teknologi dll. Sedangkan kita masih menggunakan strategi yang sama dari tahun ke tahun, dengan alasan klasik, sesuai sunah dan di luar itu adalah bid’ah. Menjalani agama dalam bentuk luar saja dan meninggalkan esensi/hakikat/ value/nilai yang di dalamnya mengakibatkan musuh mudah menyusup ke diri manusia melalui pintu hawa nafsu dan hawa nafsu menjadi penguasa diri seorang manusia. Ibarat virus rabies yang telah menyebar ke seluruh tubuh hingga otak dan menjadikan orang yang dikuasainya menjadi gila.
Dalam buku Al-Hikam, Ibn ‘Atha’illah (1350 M) menuliskan :
“Inti dari segala maksiat adalah lupa kepada Allah dan syahwat yang berasal dari nafsu adalah rela menuruti hawa nafsu. Dan inti dari keta’atan, kesadaran dan menjaga diri dari syahwat adalah tiada kerelaanmu menuruti hawa nafsu. “
Nafsu melekat dalam diri setiap manusia, ia adalah amanat dari Sang Pencipta. Karakternya mengikuti perkembangan dari diri seorang manusia. Siapa bisa mengenalinya maka dia menungganginya dan mengendalikannya menurut perintah Sang Pencipta. Namun siapa yang dikendalikannya maka sesungguhnya ia telah ingkar dari Sang Pencipta. (Q.S Yusuf :53)
Seperti saya pernah bercerita sebelumnya, nafsu saya ibaratkan anjing, setiap orang memiliki fitrah ini memegang seekor anjing. Anjing ini liar, maka kita sebagai tuannya yang harus mendidik. Masalahnya banyak dari kita yang belum dapat melihat kondisi ini. Kita masih melihat nafsu, jasad, akal, jiwa, ruh, adalah bagian yang tunggal dan tidak dapat dipisahkan, pada hakikatnya komponen ini saling berebut menguasai diri manusia. Ini yang sering kita sebut dengan perang batin dalam menghadapi suatu masalah. Jiwa, akal, nafsu, hakikatnya harus dipimpin oleh ruh. Ruh selalu menyeru untuk taat kepada yang meniupkan ruh. (Shaad: 72), artinya ia selalu menyerukan kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah.
Ibn ‘Atha’illah membagi nafsu amarah (yang menyeru kepada kejahatan) menjadi 7 macam, Imam Gazali menerangkan lebih mendetail dalam kitab Ihya. Syahwat, marah, sombong, dengki, merasa utama dari lainnya, tamak, riyaa’, Ya beliau ternyata hanya membagi penyeru kejahatan hanya 7, ini adalah sumber dari semua bentuk kejahatan yang dilakukan oleh manusia dan sering disebut dengan penyakit hati.
Saya mencoba melihat karakter 7 macam nafsu amarah ini (yang saya ibaratkan anak-anak anjing dan setan sebagai srigala lapar) ke dalam kejadian sehari-hari yang saya alami, yaitu: Pesta perkawinan. Yah saya mengambil contoh suatu acara yang secara fiqih hukumnya wajib (memenuhi undangan), mubah (diperbolehkan) . Dan Insya Allah kejadian berikut hanya ada pada diri saya sendiri:
1. Saat pertama menerima undangan maka sombong, dengki, dan merasa lebih utama, mendorong kita untuk bergibah tentang tokoh dalam undangan: dalam bentuk obrolan keluarga, telepon, layaknya infotainment.
2. Pada saat hari H, maka yang terbersit dalam diri saya adalah saya harus tampil dengan baju terbaik, kendaraan terbaik, parfum terbaik, aksesoris terbaik, dimana ini tidak lain adalah karakter dari si riyaa’ yang mendorong saya melakukan sesuatu bukan karena Allah. Bahkan sayapun tidak pernah mencoba berpenampilan seperti itu kepada istri saya. Untung saya laki-laki, kalau perempuan mungkin lebih berat, karena mereka hanya diwajibkan dandan dan menampakkan perhiasan di depan suaminya?
3. Saat melihat ruangan yang megah, si dengki keluar, karakter dengki seperti kata Aa’ Gym adalah senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang. Hati menjadi keruh.
4. Saat melihat hidangan terhampar, si tamak dan si syahwat mulai keluar, nanti kamu harus makan ini, itu, ini itu, dengan jumlah segini segitu.
5. Saat melihat wanita yang mengumbar aurat, si syahwat mulai membuai dan menggelora. Hati sudah mulai kotor, dan kadang imajinasi lebih berani lagi. astaghfirullah. Tampak luar tidak ada satupun syariat yang dilanggar, di dalam, hati sudah ibarat septic tank.
6. Si sombong, si lebih utama, si dengki tidak mau kalah mengomentari pengantin, tamu, hidangan, acara dan lain-lain. ..jelek amat yang cowoknya, jelek amat ya ceweknya, ngga mecing banget sih dandanannya, makanannya dikit amat, gak berkualitas, acaranya bosenin, bla..bla..bla.
7. Saat sebagian tamu sudah dipersilahkan menyalami mempelai sebagian tamu antri, dan sebagian lagi sudah menyerbu hidangan. Si riyaa’ yang terbungkus dalam kemasan jaim melarang saya untuk mendekati hidangan, ingat kamu harus jaga imej, jangan kaya orang kelaparan! Jadi saya tidak menyerbu hidangan karena imej bukan karena mengekang diri dari tamak dan syahwat.
8. Saat antri salaman ada orang nyrobot antrian, si marah mulai terusik, mulai memaki dalam diri, ini orang kampung banget sih, baju bagus kelakuan kampung banget. Apalagi kalau antrian dihentikan karena ada pejabat hampir semua nafsu amarah keluar: ini nih yang bikin rusak negara, kaya apa sih tampangnya, hmmm…dekil, pendek, gendut perutnya, banyak makan uang rakyat sih.
9. Saat antri makanan terutama kambing guling demikian juga, melihat orangtua mengambil makanan banyak si dengki, si marah, si sombong mulai memaki, ini orangtua mau mati aja pake banyak makan, stroke baru rasa loe……astaghfirullah
Demikianlah 7 nafsu amarah yang, saya bandingkan dengan kejadian yang saya rasakan dalam suatu undangan perkawinan. Ini baru undangan perkawinan, dimana dari menerima undangan sampai pulang tidak ada pelanggaran fiqih yang biasa kita sebut sebagai kemaksiatan, namun dilihat dari hakikatnya maka kemaksiatan hati tersebut juga akan diperhitungkan oleh Allah. Astaghfirullah, ampunilah aku atas perbuatanku di atas wahai Pemilik Semua Ampunan.
284. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki- Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki- Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah : 284)
Jadi saat kondangan saya selalu hanya terfokus pada pelaksanaannya saja, pakai pakaian yang paling sederhana untuk acara pernikahan, kalau acara pagi, sarapan secukupnya, kalau siang, makan siang dulu secukupnya, kalau malam, makan malam secukupnya, lho kan mau makan-makan? Tidakkkkkk…. saya bukan mau makan2 saya mau memenuhi undangan. Datang, bersalaman, makan sekedarnya, langsung cabuttttt. Juga buat yang akan hajatan maka hendaknya memperbanyak acara yang bersifat dzikrullah, tamu undangan sebagian besar adalah anak yatim dan fakir miskin, biar semua nafsu amarah kecewa.
Dengan kejadian di atas saya menjadi lebih waspada. Setiap yang keluar dari dalam bentuk bisikan dalam jiwa saya perhitungkan, siapa ini yang bersuara? bagaimana koridor syariatnya? Kalau sah, halal, mubah, bagaimana hakikatnya? Bila bingung tinggal ambil air wudlu, sholat mutlak/istikharah, serah terima masalah kepada Allah, dan biar Allah yang menjadi pengambil keputusan. Saat menulis inipun si riyaa’ melompat, si lebih utama juga ingin menonjol. Innalilahi wa innailaihi raji’un. Wallahualam.