:: topengdigital ::

December 18, 2007

Berihram di Dalam Negeri

Filed under: Qolbu

Dicopy paste dari milis dzikir

Sewaktu kecil saat sholat berjamaah banyak kejadian lucu. Melihat teman sebelah garuk-garuk karena nggak khusyu, dengan niatan lugu teman satunya mengingatkan : hei, kalau banyak gerak, nanti sholatmu batal. Dengan lugunya pula teman di belakangnya nyeletuk : Sholat kok ngomong ! batal Lho. Lha gadah ! kamu juga ngomong ! sama-sama batal dong !. Di sekelilingnya juga mulai cekikikan mendengar kekonyolan itu. Yang agak senior dengan setengah sinis nggerundhel : Arek-arek iki rek…rame ae. Nanti mulutnya tak obras baru tau rasa. Sholat kok buat guyonan. Mungkin sesepuhnya masjid sambil meneruskan rakaat juga nimbrung dalam hati : Ah…Seandainya mereka tahu manfaat dan nikmatnya sholat…

Tak terasa, ternyata semua terlibat kebatalan-kebatalan yang tak disadari. Semua merasa benar. Semua merasa berkewajiban mengingatkan. Semua berhak marah bila agama jadi sesuatu yang tidak serius. Semua ingin berbagi kebahagiaan spiritual. Namun mata hatinya masih melirik ke kanan kiri. Belum memandang lurus ke depan. Allah Sang Penggerak.

Semua berdebat kendaraan cara. Semua berdebat jalan kebenaran. Semua berdebat pengalaman. Terhenti di hiruk pikuk sampai tak terasa lupa tujuan.
Batal tapi benar. Batal tapi indah. Batal tapi lega. Batal tapi lapang. Tahu tujuan tapi masih berat di ongkos.

Sampai kita dewasa pun ternyata kebatalan-kebatalan itu selalu terjadi dengan bentuk yang lebih halus dan luas. Tentu sesuai dengan rumitnya parameter file otak kita tentang tafsir-tafsir. Mungkin kalau urusan mengerjakan tertib sholat yang lima waktu itu, bolehlah kita bangga merasa lebih khusyu ketimbang sahabat-sahabat kita yang kecil. Tapi bagaimana dengan mendirikan sholat ? Perintah aqomu sholat, mendirikan sholat, seperti orang mendirikan rumah. Setelah mendirikan, sudah seharusnya seseorang harus bermukim di dalamnya. Menjadi mukimin sholat. Bermaqom di sholat. Kalau mengerjakan itu urusan lima waktu, sedangkan mendirikan dan bermukim harus 24 jam online. Tidak boleh melakukan gerakan-gerakan yang membatalkan. Khusyu 24 jam tanpa melirik sekalipun.

Kekhusyukan terus-menerus mendirikan sholat tanpa lirak-lirik kanan ini sudah seharusnya menjadi kewajiban moral. Tapi siapa sih yang betah tidak lirak-lirik senggal-senggol kanan kiri ? Ah…kalau berjilbabnya masih gitu sih belum kafah. Ah…kalau metode penafsirannya begituan, apa bisa dipertanggungjawabk an. Ah…ngaji di pesantren belum tuntas kok kesusu ngomong. Jadi nambahin kacau deh. Ah…kalau metode sholatnya Abu Sangkan sih sebenarnya sudah jadi lauk pauk keseharian. Sayang kita tinggal di pinggiran yang tak tercover peradaban media modern. Itu semua sebagian contoh kecil lirikan dan gerakan diluar rakaat mata pikiran dan mata hati kita dalam bermukim sholat.

Kalau fikih syariat tidak sahnya rukun sholat karena najisnya pakaian, maka fikih hakekat batalnya gerakan mukim sholat ini penyebab utamanya adalah masalah model pakaian. Setiap hari kita berganti model baju tak pernah puas. Kemarin kita pakai baju intelektual. Setelah bosan, sekarang ganti kostum politikus. Besok mungkin sudah merancang desain model pengusaha. Kemarin ikut ini, sekarang ikut itu. Lusanya karena nggak puas terhadap semuanya lalu pindah jadi spiritualis. Ketika nggak laku, balik lagi jadi pedagang, menjual spiritualitas.

Kita semua terombang-ambing oleh perputaran trend baju gelar, profesi dan status sosial. Sehingga kita begitu peka mengamati baju-baju orang sekitar. Oh…kalau itu pakaianku lima tahun yang lalu waktu ABG. Eihh…masih ada juga model begini. Wah…ini bisa jadi trend futuristik. Sip…ini hak patenku.Ini nilai jualnya tinggi. Waduh gimana bajuku ini kok mulai ketinggalan ya…
Seandainya kita paham bahwa makna dasar baju hanyalah sebatas menutup nilai aurat ruhani yang sangat personal, maka selesailah sudah urusan yang tidak perlu itu. Kita tak lagi bingung jahitan model tafsir siapa, motif model gerakan halaqah siapa, benang spiritual siapa, warna pemahaman siapa dan kancing fatwa siapa. Kita juga tak perlu menyelidik menyingkap bagaimana sebenarnya bentuk body ruhani seseorang di balik baju itu.

Kepentingan kita seharusnya cukup mensibukkan diri menutupi pencapaian-pencapai an spiritual dengan baju putih bersih tanpa rajutan, tanpa warna, tanpa motif dan tanpa model. Netral seperti netralnya baju ihram. Inilah kostum sejati seseorang yang telah mencapai puncak ibadah. Baik ibadah sholat maupun haji ataupun ketiga rukun Islam lainnya.

Bila saja semua pemuka agama Islam telah berbaju ihram dalam keseharian, selesailah sudah pertikaian itu. Baik berihram secara syariat maupun hakikat.

Andai saya punya dana sangat buwessarrr, saya akan ber SMS kepada semua Kyai, Ustadz, Ajengan, Mursyid, Murobbi dan sejenisnya yang berbunyi :

Minggu depan di mohon kumpul di Istiqlal. Wajib memakai baju ihram. diharamkan membawa bendera dan label apapun. Ongkos ditanggung panitia. Mohon konfirmasi balik untuk masalah akomodasi. Wassalam, dari pecinta warosatul anbiya.

Ah…kita akan melihat Istiqlal bagaikan miniatur Makkah. Kita para makmum dan umat juga tidak akan larut dalam penilaian yang tak perlu. Kita tidak bisa lagi menilai : Tuh yang sorbannya segedhe wakul itu golongan si A. Yang celananya hampir sedengkul itu pasukan B. Kalau yang berbaju koko itu jamaah C. Kayaknya yang kopyah hitam itu favoritku. Wah ini nih gamisnya mantap. Cara pandang kita akan dibutakan dengan keindahan. Kemanapun memandang yang ada hanyalah putih bersinar bagaikan kesucian hati mereka. Tak ada lagi klaim merasa bersih dari yang lainnya.

Tinggal selangkah. Jika para beliau telah berjajar rapi dengan pakaian ihram, saya ingin memberanikan diri berdiri mengajukan sebuah uneg-uneg :

“Ya para pewaris nabi…hari ini aku sangat bahagia. Karena tak lagi kulihat sekat-sekat dari golongan Islam mana engkau berasal. Engkau semua begitu bersih sebersih kain ihram. Terlihat jelas olehku perbedaan antara bersih dan kotor. Hitam dan putih. Dan engkaulah yang putih bersih itu. Maka sudah seharusnya engkau semua layak menjadi simbol moral kami. Pimpinlah kami turun ke jalan secara besar-besaran. Meneriakkan segala ketidakberesan negeri ini. Teriakkan anti korupsi secara lantang. Sebab inilah biang keroknya.

Adanya tayangan maksiat itu karena aturan yang sebenarnya sudah berpihak pada nilai Islam dikorupsi, dilanggar. Bertebarannya fakir miskin dan anak yatim juga karena korupsi dana kesejahteraan. Kebodohan yang berakibat mudah menuduh dan menghakimi itu juga karena korupsi anggaran pendidikan. Ketidak khusyukan sholat seorang bapak yang bingung cari nafkah itu juga karena korupsi regulasi yang tak berpihak samasekali kepada pedagang kecil. Semua berasal dari nilai luhur dan kesantunan yang telah dikorupsi demi sebuah eksistensi kain seluas kurang lebih satu kali dua meter alias bendera - bendera golongan.

Ayolah kita bikin gerakan moral besar-besaran tanpa kepentingan apapun. Setulus kain ihram. Tanpa motif, tanpa warna dan jahitan. Ayo kita hancurkan berhala-berhala bendera golongan itu ! Saya yakin bila Anda semua turun kejalan dengan pakaian ihram, pasti semua orang di pinggir jalan akan ikut. Sebab orang-orang kecil atau makmum biasanya lebih jeli membaca sebuah ketulusan. Pasti ikut ! Pasti ikut !. Lautan manusia ruhani akan terjadi. Mosok kita kalah sama gerakan para biksu suci di Myanmar.

Ayo kita berfastabiqul khairat dengan mereka….Buktikan bahwa kita lebih baik. Jadikan seperti gerakan Hijrah Rasulullah yang sedang memimpin kaum terpinggirkan. Badan dan jiwa kami semua ingin hidup lapang seperti tenangnya orang yang sudah bermukim di sholat, seperti jembar dodo nya orang yang sudah mukim wukuf di padang Arafah. Diamnya nafsu karena telah bermukim di padang penyaksian”.

Begitu menggebunya angan-angan saya untuk berdiri tegak menyampaikan aspirasi kepada para bapaknya umat. Tetapi tiba-tiba…

Glodhak …! Saya terjatuh dari tempat tidur. Rupanya mimpi lagi. Namun diam-diam saya tetap kepikiran apakah mimpi semacam ini mungkin terwujud ? Sebab kenyataannya pemimpin kita masih lebih gemar senggol-senggolan seperti sholatnya adik-adik kita. Sebab senggol-sengolan itu asyik.

Maka putarlah musik dangdut sekeras-keras agar senggolan itu makin nikmat, memikat dan mendatangkan banyak penonton. Dengarlah rancak suara kendang tak dan dut. Kepentingan otak dan perut gendut. Tak dut…tak dut…tak dut…

Akupun ngelindur keloyongan bingung lagi mencari imam.

Wassalam, tetap makmum garda belakang.

Dody Ide

December 5, 2007

Aliran dan Samudera

Filed under: Qolbu

dicopy dari milis dzikir
Aliran dan Samudera
( Kisah Air dan Botol )

Begitu jernihnya air itu turun dari langit. Diserap oleh gunung-gunung
beserta pepohonannnya. Mengalir bercabang-cabang menjadi sungai - sungai. Selalu
turun ke bawah, ke bawah dan ke bawah. Ia mencari tempat terendah. Persatuan
kembali. Samudera lepas. Sesampai di sana air itu ingin naik kembali. Menguap
melebur. Menjadi sesuatu yang jernih kembali.

Layaknya air, sebuah ajaran moral turun dari langit begitu jernihnya. Ajaran
ini merembet meliuk-liuk bergelombang melewati celah-celah terendah. Memecah
diri menjadi berbagai aliran sungai ajaran. Di tengah perjalanan, air sungai
banyak yang memanfaatkan. Ada yang ingin sekedar meminumnya. Ada yang
memanfaatkan untuk mengairi sawah. Ada yang mencuci baju sambil menyisakan
deterjen perusak ekosistem. Ada yang beol geyal-geyol sambil merokok santai
tanpa perlu susah payah menyiram. Ada pula yang tak bertanggungjawab secara
sistematis menguras besar-besaran seluruh kandungannya demi hawa nafsu yang tak
berujung.

Sebagian ulah manusia ini membuat air menjadi keruh. Air yang dulunya bersih
jadi kotor. Ajaran suci air telah tercemari dengan berbagai kepentingan. Air
yang seharusnya turun ke samudera, dibelokkan kesana-kemari, ditampung berbagai
wadah dan dimasukkan botol beraneka bentuk. Disesatkan dari tujuan semula ke
samudera. Air itu sesaat bergejolak karena tersesat tak tahu arah kembali. Namun
seiring waktu, air itu mulai diam, mapan mengikuti bentuk wadagnya. Mulai
terjadi persesuaian. Seakan bentuk air adalah wadah itu.
Kemudian orang -orang secara aklamasi maupun tersistem oleh sebuah kekuatan
yang rapi, memproklamirkan bahwa inilah satu-satunya bentuk air yang sah. Air
itu dilabeli, dicap standard tinggi semacam ISO atau ROHS dan diproduksi masal
serta didistribusikan secara luar biasa. Kita pun secara turun temurun
menganggap bahwa itulah satu-satunya bentuk air yang baik. Kita kehilangan daya
keberanian mengungkapkan bahwa air tidak hanya itu. Air di gunung, di bawah
tanah, dan di telaga bening dalam hutan tak pernah kita anggap lagi.

Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kesejukan dan pelepas dahaga
bertranformasi menjadi bentuk botol pemahaman yang kaku dan mudah pecah. Tak ada
yang berani memanfaatkan selain hanya sebagai simbol keberadaan. Lihatlah ! Kami
ada ! Awas jangan ganggu kami ! Semua orang bingung menjaga dengan hati-hati dan
ekstra ketat jangan sampai botol itu rusak. Walau tak ada perang selalu saja
siaga satu.

Air itu sesungguhnya telah kehilangan perhentian terakhir. Samudera nan
luas….

*

Air adalah kodrat ruh manusia sedangkan botol-botol itu adalah diri kita
beserta lembaga-lembaga atau halaqah yang kita yakini sebagai pembawa kejernihan
ajaran. Namun sayangnya kita ini sering terjebak oleh institusi botol daripada
melihat kemanakah jalannya air. Muncrat show of force ke atas seperti
pertunjukan air mancur atau sampanye, ataukah selalu mengikuti kodrat mengalir
ke bawah menuju samudera lepas. Kita tak pernah peduli. Hati kita tetap lebih
condong dengan botol daripada air.

Kita terbiasa menuhankan botol-botol lembaga. Baik lembaga yang bernama
kharisma individu, swasta atau negara. Sehingga kecondongan hati kita
terhadapnya sepadan persis sama beratnya dengan kecondongan terhadap Tuhan. Bisa
jadi Tuhan itu malah nomor dua bahkan kancrit buncit karena kita tak begitu
percaya akan kedekatanNya. Walaupun kitab suci secara bloko sutho sudah ngomong
apa adanya akan hal itu. Sebab ada yang bilang Tuhan itu nggak ada. Kalaupun ada
ya masih sebatas retorika katanya ataupun hanya bukti keajaiban alam yang
menunjukkan adanya peran Tuhan di balik semua itu . Bukan bukti wujud atau dzat.

“Hidup modern harus logis dan serba techno bung ! Jangan ngomong Tuhan yang
keberadaannya sampai ini tak bisa dideteksi dengan tehnologi tercanggih”, begitu
semboyan kita saat ini. Dan tiba-tiba kita lebih sami’na wa ato’na terhadap
apapun yang berbau tehhno.

Pada tahap akut pengkaburan pemahaman antara air dan botol, pikiran sudah
terbiasa dengan: tak ada air nggak apa-apa asal ada botol. Tak ada rotan akar
pun jadi. Asal ada kata Islam atau Islami, marem hati ini. Entah ada tidaknya
nilai maslahat arus bawah umat ataupun kandungan ruhaninya, itu urusan
belakangan. “Gak ngurus ! Yang penting Islam !”, begitu terngiang lekatnya
kalimat sahabat saya waktu kecil itu.

Seperti beberapa waktu lalu saya tertawa terpingkal-pingkal melihat teman saya
yang misuh-misuh. Kurang ajar ! Jan*%# ! Dod, kemarin karena macet karnaval,
aku akhirnya numpang mobil box. Eh..dia ngangkut mie instan bermerk “Islamie”.
Setelah saya tanya sopirnya: “Apakah ini milik pengusaha muslim ?”. “Bukan
mas… ya siapa lagi mas yang kerjaannya pinter dagang”, katanya. Pak sopir tak
peduli dengan urusan itu. Yang penting bagi pemahamannya, dia harus bekerja
halal mengeluarkan keringat mengentaskan kemiskinan keluarganya.

“Kapokmu kapan !”, saya cuma bisa berkomentar sependek itu.

Atau kalau kita pergi ke Singapura, coba masuk ke salah satu swalayan. Anda
akan terkaget-kaget ada salah satu makanan kaleng dari Australia bertuliskan
“Halal Pork” dengan gambar hidungnya miss Piggy yang seksi itu. Itu semua hanya
sebagian contoh kecil yang masih kasar permainannya.
Kesalahpahaman pemaknaan, keremangan memandang masalah, dan ketersesatan itu
ternyata begitu menyelimuti kita semua. Dari rangkaian keilmuan dan pengalaman
yang mengerucut pada kata sesat atau tidak, ternyata hanya karena urusan bentuk
botol. Bukan kejelian memandang aliran air.

Orang-orang yang bijaksana seharusnya mampu membebaskan air-air dalam botol,
mewakafkan tanahnya untuk dilalui arus besar air yang tak punya jalan mengalir
menuju samudera. Bukannya malah memecah botol sambil mengganti dengan botol baru
yang sesuai dengan selera penafsirannya.

**

Kita ini memang pecinta aliran dan bentuk daripada belajar mencintai samudera
tak terbatas karena aliran mudah dikendalikan. Sedangkan samudera tidak. Kita
senang menyumbat aliran-aliran kecil. Menghadang, menohok dan gemagah menginjak
yang kecil agar eksistensi sebuah imperium aliran besar tetap terjaga. Tak ada
kelegawaan untuk bertemu, berdialog, membimbing dan kemudian berfastabiqul
khairat : ayo siapa yang mampu menempuh jalan terendah agar air cepat sampai ke
samudera…

Sekali aliran tetap aliran. Sama sekali bukan samudera. Tak peduli arus
mainstream atau minor.

Mungkin kegamangan akan perjalanan menuju samudera hanya karena kita tak
terbiasa di tempat yang luas. Memang sih bagi yang nggak biasa, hidup di
samudera itu nggak enak. Nggak jelas lor kidul. Semua membaur menjadi satu. Tak
bisa membedakan asal usul aliran. Tak ada suku dan keturunan.Tak ada
pengkaplingan. Tak ada lagi jahitan. tak ada motif. Tak ada warna. Persisi
seperti kain ihram. Agar orang mampu khusyu wukuf sejenak di padang Arafah.

Berdiam hening di padang penyaksian yang sangat luas.

Ternyata kita yang masih suka aliran-aliran dan lembaga, masihlah sebentuk air
yang belum tuntas perjalanannya menuju samudera. Masih ada kemungkinan air ini
tak sampai ke samudera alias tersesat. Bila saja kita berani meneruskan
perjalanan, biasanya pada muara batas antara aliran sungai dan samudera, antara
air tawar dengan air asin, akan terlihat papan pengumuman yang besar sekali :

Selamat datang
Anda memasuki kawasan samudera
Tunggal ilmu ojo adu, tunggal guru ojo ngganggu, tunggal agomo ojo padu. Belum
kenal Tuhan jangan belagu..
Sama-sama cari makan, sesama sesat dilarang saling menyesatkan….

***
Jikalau kalau

Jikalau ada hadits yang menyatakan umat Islam terpecah menjadi tujuh puluh
tiga aliran golongan dan hanya satu yang benar, mari menegaskan kepada diri
sendiri bahwa yang satu golongan benar itu bukan diri kita. Tak lain agar kita
lebih serius dan khusyu ber Al Fatihah. Meminta petunjuk tentang jalan yang
lurus dari sekian pilihan yang ada. Atau mari memaknai hadits itu dengan cara
pandang yang progresif namun sederhana. Misalnya, Islam itu kita ibaratkan kue
pizza yang dipotong terpecah jadi tujuhpuluh tiga bagian, dan yang benar hanya
satu, maka makan saja utuh-utuh semuanya. Agar Islam kita utuh dan benar. Dekati
semuanya. Jadikan saudara seperti janji kita diakhir shalat. Masalah kapan
memakannya, ya tinggal disesuaikan dengan kontekstualnya kebutuhan hidup.

Kalau ada potongan bagian yang terlalu pedas karena banyak paprika nya, jangan
tergesa membuang. Taruh dulu, nanti kalau badan lagi lemes kan bisa buat tombo
ngantuk. Artinya, kalau kita nggak suka teman-teman yang berhaluan keras yang
gemar main hakim sendiri dengan alasan menegakkan hukum Islam, dekati saja.
Jangan dibenci. Ajak berteman. Ketika korupsi sudah demikian parah, dan aparat
begitu impotentnya terhadap koruptor, kita tinggal bilang :

“Ustadz, Bib, bagaimana kalau kita turun ke jalan, sweeping rumah koruptor.
Kita ajak pengacara muslim beserta akuntannya, lalu sidak ditempat memakai
metode pembuktian terbalik tentang darimana harta ini diperoleh. Kalau tidak
bisa menjawab dengan benar, ya silahkan sampeyan dan para anak buah melampiaskan
hasrat Rambo seperti biasanya. Silahkan terapkan hukum Islam tentang pencurian.
Langsung di tempat. Di jamin korupsi cepat abis. Negara cepat adil makmur
merata. Masak sih sama pencuri yang rata-rata berperut gendut dan tidak punya
ilmu beladiri nggak berani. Padahal sampeyan dan anak buah begitu heroiknya
berhadapan dengan preman kafe-kafe yang berbadan kekar dan jago berkelahi”.

Jikalau ada potongan bagian yang nggak ada dagingnya alias sayur thok, jangan
grusa-grusu bilang nggak mau. Taruh dulu. Nanti ketika kolesterol dan tekanan
darah meninggi, kita pasti butuh bagian itu. Artinya bila ada sesama muslim yang
kelihatan melempem adem ayem ngglendhem yang kerjaannya tazkiyatun nafs, jangan
dianggap pecundang. Ketika segala ikhtiar dan heroiknya perjuangan atas nama
Islam mengalami puncak kebuntuan, pertikaian, kelelahan dan kelalaian, para
mereka akan tampil menjadi pahlawan yang memberi peneduh sekaligus penyemangat
hidup. Seperti segarnya sayur mayur hijau di atas pizza.

Kalau kita tidak bisa memakan semua, cara tergampang adalah ; ambil titik
tengahnya. Kosong. Nol. Ambil saja sikap seperti anak muda yang kasmaran tapi
nggak berani pacaran, “Kayaknya kita lebih baik berteman aja deh daripada saling
menyakiti ”

Tidak memakan apa-apa namun berada di tengah dilingkupi semua potongan. Puasa.
Enaknya metode ini, tak ada seorangpun yang mampu menggugatnya. Karena puasa
satu-satunya ibadah rahasia antara mahluk dengan Khaliknya. Dalam rumus
matematika biner, puasa adalah bilangan Nol, sedangkan utuhnya kue pizza adalah
bilangan satu. Artinya, kalau kita nggak mampu jadi angka satu, langsung aja
jadi angka Nol. Jangan setengah - setengah alias banci. Yang namanya
setengah-setengah itu nggak profesional. Angka setengah dalam kinerja tehnologi
biner tak diakui, cacat. Tak akan mampu menjalankan program apapun

Bila angka nol dan satu telah berpadu serasi bergantian saling meng-”ada”,
tentu akan menjadi program yang sangat dahsyat. Menjadi aplikasi nyata.

****
Jikalau kita pengen khusyuk menghamba pada Allah, sudahi saja menohok sesama,
ndhak perlu tunjuk hidung menyesatkan orang atau golongan. Baik menyesatkan
secara terang-terangan ataupun malu-malu dengan kamuflase logis ayatis dan
spiritual ghaib klenis.

Kalau kita mengaku tidak sesat, sudah seharusnya berani memproklamirkan diri:
“Aku termasuk orang yang dijamin surga layaknya Muhammad SAW. Aku tak perlu
membaca Al Fatihah sebanyak tujuh belas kali sehari. Sebab aku tidak sesat.
Sebab Al fatihah itu isinya hanya pengakuan orang yang selalu minta petunjuk
atas ketersesatannya. Aku tak perlu memohon Ihdinassiratal mustaqim karena aku
yakin jalanku sudah lurus”.

Minimal woro-woro ini diumumkan di milis ini secara gentleman. Atau kalau
ingin lebih berskala besar, sekalian saja mengiklankan diri di koran atau
televisi. Dijamin cepat terkenal, banyak pasukan pengikut, dan tentu saja
peluang pasar yang menggiurkan daripada sekedar lima ribu orang yang berada
dalam milis ini. Ayo siapa berani mulai ?

Kalau saya pribadi sih cari selamatnya saja. Pakai doanya Abunawas :
“Ya Allah…hamba ini nggak pantas masuk surgamu. Tapi…kok kayaknya juga nggak
kuat panasnya neraka….”

Minimal kalau saya tersesat, mbok diingatkan bagaimana saya harus
menggoyang-goyangkan badan, mencubiti kulit dan membelalakkan mata agar tetap
tersadar bahwa saya ini tersesat di bumi Allah, tersesat di alam-alam ghaib
miliknya Allah, tersesat di suasana-suasana ciptaan Allah, tersesat di keramaian
logika berfikir otak made in Allah, tersesat di ilusi-ilusi rasa bikinan Allah.
Tersesat di mana sajalah. Asalkan sadar, bahwa dalam ketersesatan itu semua
milik Allah…alias tetap ingat Allah.

Hambamu yang tersesat

Dody Ide

December 2, 2007

Si Abid Yang Merasa Tak Puas dengan Tuhan yang Abstrak

Filed under: Qolbu

dicopy dari milis dzikir

Assalamu’alaikum warochmatullohi wabarokatuhu’

Si Abid yg merasa tdk puas dengan Tuhan yg abstrak, gaib yg tak terlihat. Ia ingin melihatnya. Melihat-Nya dalam dunia yg nyata ini sebagai kenyataan yang tunggal. Maka ia mendatangi para guru, ulama, pemikir. Ia mendatangi setiap orang yg berbicara ttg Tuhan. Pertanyaannya selalu sama, “Apakah Anda sudah melihat Tuhan”. Banyak jawaban yg diperolehnya namun tak satupun yang membuatnya puas. Kemudian pada suatu sore ia mendatangi si Pak Guru, beliau tinggal di DESA yang terpencil. Si Abid mendatangi beliau dan bertanya “Apakah guru sudah melihat Tuhan”. Pak Guru menjawab “Mari kita duduk dulu Nak minum air kemudian kita akan membahas pertanyaanmu” . Si Abid menjawab “Cukup guru, terima kasih”. Sambil pergi keluar. Pak Guru bingung, ia tidak memahami maksud Abid. Bagi Abid jawaban sang guru cukup jelas, Pak Guru masih terjebak dlm permainan kata dan pikiran. Ia menghormati beliau tapi ia menginginkan jawaban yg tegas ya atau tidak. Pernah melihat Tuhan atau tidak.
Kemudian pada suatu sore seorang teman mengajak dia untuk ketemu dgn Pak Tua, seorang petani di desa yang terpencil dianggap eksentrik, bahkan sedikit “gila alias tdk waras”.

Pak Tua bukanlah seorang alim atau ulama ahli. Kaum Alim, ulama ada dimana-mana, mereka adalah yg menutup pintu itihijad bagimu, mereka tidak menginginkan kamu berpikir dan menemukan arti sendiri kitab suci. Mereka yg hendak memonopoli urusan pemahaman. Sehingga umat dapat dibohongi,ditipu. Dan akan memaksa untuk menerima pemahaman yang menguntungkan mereka. Kaum Alim adalah para cendikiawan yang arogan, para dosen dan rektor gila kekuasaan. Para pendidik dan pengajar yg mementingkan kantong mereka aja. Kaum Alim ulama ini yg selalu menolak para pencari Hikmah. Mereka adalah pemuja aksara. Devosi mereka terhadap kata2 belaka. Mereka memahami kitab suci secara harfiah. Mereka memahami kata sbg kata tapi tdk memahami esensinya. Mereka masih berdebat ttg apa yg tersurat. Mereka masih sibuk dlm perdebatan, maka janganlah mengharapkan pemahaman mereka atas apa yg tersirat.

Pak Tuapun menolak kaum alim, para ulama para ahli kitab. Pak Tua pernah diprotes karena selama berhari-hari dia tidak berdoa. Pak Tua menjawab “Doa harus keluar dari hati, kadang2 hatiku tdk ingin berdoa. Aku hanya ingin menatap wajah Tuhan. Tuhan pun tdk keberatan. Tuhan dapat memahami keadaanku. Tuhan tidak pernah mengeluh. Waktu aku kecil dan tidak ingin melakukan sesuatu, akan kukatakan pada ibuku, dan ia pun memahaminya. Demikian juga dengan Tuhan. Dia pun memahamiku. Apa kesulitanku. ”
Bagi Pak Tua doa itu sifatnya pribadi. Hubungan antara panembah dan yang disembahnya. Cara dan waktu berdoa pun urusan pribadi si panembah. Tak seorang pun berhak mencampurinya. Ya Pak Tua memang udah terlepas dari dogma, akidah doktrin yg masih berlaku bagi kita.

Sore itu Si Abid berhadapan dgn Pak Tua. Dia pun mengajukan pertanyaan yg sama “Apakah Pak Tua sudah melihat Tuhan”. Pak Tua menjawab, “Ya sudah pernah, bahkan setiap saat aku melihat wajah Nya, aku melihat wajahnya dengan jelas sekali sama seperti aku melihat wajahmu saat ini “.

Si Abid jiwanya tergunjang mendengar jawaban tsb. Ia tidak mengharapkan jawaban setegas itu. Ia sudah tidak mengharap ada orang yang dapat menjawab “ya” pertanyaannya. Dalam hati kecilnya ia berpikir bukankah jawaban ini yang kutunggu selama ini. Namun ketika jawaban itu diperolehnya dia pun terkejut. Setelah itu dia pun menundukkan kepalanya. Ia sadar bahwa yang dihadapinya bukanlah Pak Tua biasa bukanlah para ahli kitab. Ia sedang menghadapi manusia Allah. Seorang Tua yang sudah melihat tidak hanya mendengar suara-Nya. Pak Tua adalah seorang saksi dan hanya seorang saksi yg bisa menjawab seperti itu. Ya pak Tua telah melihat wajah Tuhan, pak Tua sedang melihat Tuhan. Pak Tua melihatnya setiap saat. Sejelas kulihat wajahmu. Sejelas itu pula kulihat wajah-Nya.sekedar untuk mengerenyitkan dahi kita.

Salam, semoga kita selalu dalam lindungan Nya.

kadis_ btg






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer