:: topengdigital ::

December 5, 2007

Aliran dan Samudera

Filed under: Qolbu

dicopy dari milis dzikir
Aliran dan Samudera
( Kisah Air dan Botol )

Begitu jernihnya air itu turun dari langit. Diserap oleh gunung-gunung
beserta pepohonannnya. Mengalir bercabang-cabang menjadi sungai - sungai. Selalu
turun ke bawah, ke bawah dan ke bawah. Ia mencari tempat terendah. Persatuan
kembali. Samudera lepas. Sesampai di sana air itu ingin naik kembali. Menguap
melebur. Menjadi sesuatu yang jernih kembali.

Layaknya air, sebuah ajaran moral turun dari langit begitu jernihnya. Ajaran
ini merembet meliuk-liuk bergelombang melewati celah-celah terendah. Memecah
diri menjadi berbagai aliran sungai ajaran. Di tengah perjalanan, air sungai
banyak yang memanfaatkan. Ada yang ingin sekedar meminumnya. Ada yang
memanfaatkan untuk mengairi sawah. Ada yang mencuci baju sambil menyisakan
deterjen perusak ekosistem. Ada yang beol geyal-geyol sambil merokok santai
tanpa perlu susah payah menyiram. Ada pula yang tak bertanggungjawab secara
sistematis menguras besar-besaran seluruh kandungannya demi hawa nafsu yang tak
berujung.

Sebagian ulah manusia ini membuat air menjadi keruh. Air yang dulunya bersih
jadi kotor. Ajaran suci air telah tercemari dengan berbagai kepentingan. Air
yang seharusnya turun ke samudera, dibelokkan kesana-kemari, ditampung berbagai
wadah dan dimasukkan botol beraneka bentuk. Disesatkan dari tujuan semula ke
samudera. Air itu sesaat bergejolak karena tersesat tak tahu arah kembali. Namun
seiring waktu, air itu mulai diam, mapan mengikuti bentuk wadagnya. Mulai
terjadi persesuaian. Seakan bentuk air adalah wadah itu.
Kemudian orang -orang secara aklamasi maupun tersistem oleh sebuah kekuatan
yang rapi, memproklamirkan bahwa inilah satu-satunya bentuk air yang sah. Air
itu dilabeli, dicap standard tinggi semacam ISO atau ROHS dan diproduksi masal
serta didistribusikan secara luar biasa. Kita pun secara turun temurun
menganggap bahwa itulah satu-satunya bentuk air yang baik. Kita kehilangan daya
keberanian mengungkapkan bahwa air tidak hanya itu. Air di gunung, di bawah
tanah, dan di telaga bening dalam hutan tak pernah kita anggap lagi.

Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kesejukan dan pelepas dahaga
bertranformasi menjadi bentuk botol pemahaman yang kaku dan mudah pecah. Tak ada
yang berani memanfaatkan selain hanya sebagai simbol keberadaan. Lihatlah ! Kami
ada ! Awas jangan ganggu kami ! Semua orang bingung menjaga dengan hati-hati dan
ekstra ketat jangan sampai botol itu rusak. Walau tak ada perang selalu saja
siaga satu.

Air itu sesungguhnya telah kehilangan perhentian terakhir. Samudera nan
luas….

*

Air adalah kodrat ruh manusia sedangkan botol-botol itu adalah diri kita
beserta lembaga-lembaga atau halaqah yang kita yakini sebagai pembawa kejernihan
ajaran. Namun sayangnya kita ini sering terjebak oleh institusi botol daripada
melihat kemanakah jalannya air. Muncrat show of force ke atas seperti
pertunjukan air mancur atau sampanye, ataukah selalu mengikuti kodrat mengalir
ke bawah menuju samudera lepas. Kita tak pernah peduli. Hati kita tetap lebih
condong dengan botol daripada air.

Kita terbiasa menuhankan botol-botol lembaga. Baik lembaga yang bernama
kharisma individu, swasta atau negara. Sehingga kecondongan hati kita
terhadapnya sepadan persis sama beratnya dengan kecondongan terhadap Tuhan. Bisa
jadi Tuhan itu malah nomor dua bahkan kancrit buncit karena kita tak begitu
percaya akan kedekatanNya. Walaupun kitab suci secara bloko sutho sudah ngomong
apa adanya akan hal itu. Sebab ada yang bilang Tuhan itu nggak ada. Kalaupun ada
ya masih sebatas retorika katanya ataupun hanya bukti keajaiban alam yang
menunjukkan adanya peran Tuhan di balik semua itu . Bukan bukti wujud atau dzat.

“Hidup modern harus logis dan serba techno bung ! Jangan ngomong Tuhan yang
keberadaannya sampai ini tak bisa dideteksi dengan tehnologi tercanggih”, begitu
semboyan kita saat ini. Dan tiba-tiba kita lebih sami’na wa ato’na terhadap
apapun yang berbau tehhno.

Pada tahap akut pengkaburan pemahaman antara air dan botol, pikiran sudah
terbiasa dengan: tak ada air nggak apa-apa asal ada botol. Tak ada rotan akar
pun jadi. Asal ada kata Islam atau Islami, marem hati ini. Entah ada tidaknya
nilai maslahat arus bawah umat ataupun kandungan ruhaninya, itu urusan
belakangan. “Gak ngurus ! Yang penting Islam !”, begitu terngiang lekatnya
kalimat sahabat saya waktu kecil itu.

Seperti beberapa waktu lalu saya tertawa terpingkal-pingkal melihat teman saya
yang misuh-misuh. Kurang ajar ! Jan*%# ! Dod, kemarin karena macet karnaval,
aku akhirnya numpang mobil box. Eh..dia ngangkut mie instan bermerk “Islamie”.
Setelah saya tanya sopirnya: “Apakah ini milik pengusaha muslim ?”. “Bukan
mas… ya siapa lagi mas yang kerjaannya pinter dagang”, katanya. Pak sopir tak
peduli dengan urusan itu. Yang penting bagi pemahamannya, dia harus bekerja
halal mengeluarkan keringat mengentaskan kemiskinan keluarganya.

“Kapokmu kapan !”, saya cuma bisa berkomentar sependek itu.

Atau kalau kita pergi ke Singapura, coba masuk ke salah satu swalayan. Anda
akan terkaget-kaget ada salah satu makanan kaleng dari Australia bertuliskan
“Halal Pork” dengan gambar hidungnya miss Piggy yang seksi itu. Itu semua hanya
sebagian contoh kecil yang masih kasar permainannya.
Kesalahpahaman pemaknaan, keremangan memandang masalah, dan ketersesatan itu
ternyata begitu menyelimuti kita semua. Dari rangkaian keilmuan dan pengalaman
yang mengerucut pada kata sesat atau tidak, ternyata hanya karena urusan bentuk
botol. Bukan kejelian memandang aliran air.

Orang-orang yang bijaksana seharusnya mampu membebaskan air-air dalam botol,
mewakafkan tanahnya untuk dilalui arus besar air yang tak punya jalan mengalir
menuju samudera. Bukannya malah memecah botol sambil mengganti dengan botol baru
yang sesuai dengan selera penafsirannya.

**

Kita ini memang pecinta aliran dan bentuk daripada belajar mencintai samudera
tak terbatas karena aliran mudah dikendalikan. Sedangkan samudera tidak. Kita
senang menyumbat aliran-aliran kecil. Menghadang, menohok dan gemagah menginjak
yang kecil agar eksistensi sebuah imperium aliran besar tetap terjaga. Tak ada
kelegawaan untuk bertemu, berdialog, membimbing dan kemudian berfastabiqul
khairat : ayo siapa yang mampu menempuh jalan terendah agar air cepat sampai ke
samudera…

Sekali aliran tetap aliran. Sama sekali bukan samudera. Tak peduli arus
mainstream atau minor.

Mungkin kegamangan akan perjalanan menuju samudera hanya karena kita tak
terbiasa di tempat yang luas. Memang sih bagi yang nggak biasa, hidup di
samudera itu nggak enak. Nggak jelas lor kidul. Semua membaur menjadi satu. Tak
bisa membedakan asal usul aliran. Tak ada suku dan keturunan.Tak ada
pengkaplingan. Tak ada lagi jahitan. tak ada motif. Tak ada warna. Persisi
seperti kain ihram. Agar orang mampu khusyu wukuf sejenak di padang Arafah.

Berdiam hening di padang penyaksian yang sangat luas.

Ternyata kita yang masih suka aliran-aliran dan lembaga, masihlah sebentuk air
yang belum tuntas perjalanannya menuju samudera. Masih ada kemungkinan air ini
tak sampai ke samudera alias tersesat. Bila saja kita berani meneruskan
perjalanan, biasanya pada muara batas antara aliran sungai dan samudera, antara
air tawar dengan air asin, akan terlihat papan pengumuman yang besar sekali :

Selamat datang
Anda memasuki kawasan samudera
Tunggal ilmu ojo adu, tunggal guru ojo ngganggu, tunggal agomo ojo padu. Belum
kenal Tuhan jangan belagu..
Sama-sama cari makan, sesama sesat dilarang saling menyesatkan….

***
Jikalau kalau

Jikalau ada hadits yang menyatakan umat Islam terpecah menjadi tujuh puluh
tiga aliran golongan dan hanya satu yang benar, mari menegaskan kepada diri
sendiri bahwa yang satu golongan benar itu bukan diri kita. Tak lain agar kita
lebih serius dan khusyu ber Al Fatihah. Meminta petunjuk tentang jalan yang
lurus dari sekian pilihan yang ada. Atau mari memaknai hadits itu dengan cara
pandang yang progresif namun sederhana. Misalnya, Islam itu kita ibaratkan kue
pizza yang dipotong terpecah jadi tujuhpuluh tiga bagian, dan yang benar hanya
satu, maka makan saja utuh-utuh semuanya. Agar Islam kita utuh dan benar. Dekati
semuanya. Jadikan saudara seperti janji kita diakhir shalat. Masalah kapan
memakannya, ya tinggal disesuaikan dengan kontekstualnya kebutuhan hidup.

Kalau ada potongan bagian yang terlalu pedas karena banyak paprika nya, jangan
tergesa membuang. Taruh dulu, nanti kalau badan lagi lemes kan bisa buat tombo
ngantuk. Artinya, kalau kita nggak suka teman-teman yang berhaluan keras yang
gemar main hakim sendiri dengan alasan menegakkan hukum Islam, dekati saja.
Jangan dibenci. Ajak berteman. Ketika korupsi sudah demikian parah, dan aparat
begitu impotentnya terhadap koruptor, kita tinggal bilang :

“Ustadz, Bib, bagaimana kalau kita turun ke jalan, sweeping rumah koruptor.
Kita ajak pengacara muslim beserta akuntannya, lalu sidak ditempat memakai
metode pembuktian terbalik tentang darimana harta ini diperoleh. Kalau tidak
bisa menjawab dengan benar, ya silahkan sampeyan dan para anak buah melampiaskan
hasrat Rambo seperti biasanya. Silahkan terapkan hukum Islam tentang pencurian.
Langsung di tempat. Di jamin korupsi cepat abis. Negara cepat adil makmur
merata. Masak sih sama pencuri yang rata-rata berperut gendut dan tidak punya
ilmu beladiri nggak berani. Padahal sampeyan dan anak buah begitu heroiknya
berhadapan dengan preman kafe-kafe yang berbadan kekar dan jago berkelahi”.

Jikalau ada potongan bagian yang nggak ada dagingnya alias sayur thok, jangan
grusa-grusu bilang nggak mau. Taruh dulu. Nanti ketika kolesterol dan tekanan
darah meninggi, kita pasti butuh bagian itu. Artinya bila ada sesama muslim yang
kelihatan melempem adem ayem ngglendhem yang kerjaannya tazkiyatun nafs, jangan
dianggap pecundang. Ketika segala ikhtiar dan heroiknya perjuangan atas nama
Islam mengalami puncak kebuntuan, pertikaian, kelelahan dan kelalaian, para
mereka akan tampil menjadi pahlawan yang memberi peneduh sekaligus penyemangat
hidup. Seperti segarnya sayur mayur hijau di atas pizza.

Kalau kita tidak bisa memakan semua, cara tergampang adalah ; ambil titik
tengahnya. Kosong. Nol. Ambil saja sikap seperti anak muda yang kasmaran tapi
nggak berani pacaran, “Kayaknya kita lebih baik berteman aja deh daripada saling
menyakiti ”

Tidak memakan apa-apa namun berada di tengah dilingkupi semua potongan. Puasa.
Enaknya metode ini, tak ada seorangpun yang mampu menggugatnya. Karena puasa
satu-satunya ibadah rahasia antara mahluk dengan Khaliknya. Dalam rumus
matematika biner, puasa adalah bilangan Nol, sedangkan utuhnya kue pizza adalah
bilangan satu. Artinya, kalau kita nggak mampu jadi angka satu, langsung aja
jadi angka Nol. Jangan setengah - setengah alias banci. Yang namanya
setengah-setengah itu nggak profesional. Angka setengah dalam kinerja tehnologi
biner tak diakui, cacat. Tak akan mampu menjalankan program apapun

Bila angka nol dan satu telah berpadu serasi bergantian saling meng-”ada”,
tentu akan menjadi program yang sangat dahsyat. Menjadi aplikasi nyata.

****
Jikalau kita pengen khusyuk menghamba pada Allah, sudahi saja menohok sesama,
ndhak perlu tunjuk hidung menyesatkan orang atau golongan. Baik menyesatkan
secara terang-terangan ataupun malu-malu dengan kamuflase logis ayatis dan
spiritual ghaib klenis.

Kalau kita mengaku tidak sesat, sudah seharusnya berani memproklamirkan diri:
“Aku termasuk orang yang dijamin surga layaknya Muhammad SAW. Aku tak perlu
membaca Al Fatihah sebanyak tujuh belas kali sehari. Sebab aku tidak sesat.
Sebab Al fatihah itu isinya hanya pengakuan orang yang selalu minta petunjuk
atas ketersesatannya. Aku tak perlu memohon Ihdinassiratal mustaqim karena aku
yakin jalanku sudah lurus”.

Minimal woro-woro ini diumumkan di milis ini secara gentleman. Atau kalau
ingin lebih berskala besar, sekalian saja mengiklankan diri di koran atau
televisi. Dijamin cepat terkenal, banyak pasukan pengikut, dan tentu saja
peluang pasar yang menggiurkan daripada sekedar lima ribu orang yang berada
dalam milis ini. Ayo siapa berani mulai ?

Kalau saya pribadi sih cari selamatnya saja. Pakai doanya Abunawas :
“Ya Allah…hamba ini nggak pantas masuk surgamu. Tapi…kok kayaknya juga nggak
kuat panasnya neraka….”

Minimal kalau saya tersesat, mbok diingatkan bagaimana saya harus
menggoyang-goyangkan badan, mencubiti kulit dan membelalakkan mata agar tetap
tersadar bahwa saya ini tersesat di bumi Allah, tersesat di alam-alam ghaib
miliknya Allah, tersesat di suasana-suasana ciptaan Allah, tersesat di keramaian
logika berfikir otak made in Allah, tersesat di ilusi-ilusi rasa bikinan Allah.
Tersesat di mana sajalah. Asalkan sadar, bahwa dalam ketersesatan itu semua
milik Allah…alias tetap ingat Allah.

Hambamu yang tersesat

Dody Ide

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://topengdigital.blogsome.com/2007/12/05/aliran-dan-samudera/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer