Haji Mabrur dan Tukang Sepatu
copy paste dari milis
dzikrullah@yahoogroups.com
From: Send an Instant Message “wagni”
Assalamu Alaikum,
Ada tulisan Menarik Tentang Haji Dibawah ini,
Mudah2an Bisa nyambung dengan pertanyaan Mas Iwan
Wassalam
Tomi
“Haji Mabrur dan Tukang Sepatu”
“Wahai Rasulullah, siapakah di antara hamba-hamba Allah yang
menunaikan ibadah haji tahun ini yang diterima sebagai haji mabrur?”
Oleh: M. Syamsi Ali
Diceritakan bahwa di sebuah perkampungan terpencil ada seorang miskin
yang bekerja sebagai tukang nyemir sepatu. Walaupun tukang penyemir
sepatu dan miskin, semangat dan komitmennya untuk pengabdi kepada
Penciptanya sangat besar. Bahkan tidak ketinggalan mengimpikan untuk
dapat melaksanakan ibadah haji di suatu hari.
Untuk mewujudkan mimpi itu, disisihkanlah penghasilannya dari ke hari,
bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun. Kalaulah seandainya bukan
karena iman dan tawakkal yang tinggi, pastilah hamba Allah ini patah
semangat, sebab uang yang dikumpulkan itu tidak pernah mencukupi biaya
haji yang dibuthkan. Namun didukung oleh semangat penuh dan kerja
keras, hingga suatu ketika dirasa bahwa bekal untuk berhaji telah
mencukupi.
Segala persiapan pun dilakukan. Niat telah bulat, perbekalan ada di
tangan. Kini tinggal memulai perjalanan itu. Hati hamba ini bersuka
ria tiada habis memuji kebesaran Ilahi. Dan tibalah masa untuk memulai
perjalanan itu. Tiba-tiba di saat akan meninggalkan rumahnya terdengar
kabar bahwa tetangganya terjatuh sakit dan memerlukan bantuan keuangan
untuk pengobatan.
Sang hamba itupun mengalihkan langkah kakinya menuju kediaman tetangga
itu. Di lihatnya tetangganya tergeletak lemah, merintih menahan sakit
dan berharap jika ada yang berkenan membantunya untuk meringankan
bebannya itu. Diapun dengan ikhlas dan tekad karena mencari ridha
Allah SWT memberikan bekal perjalanan hajinya kepada tetangga dengan
harapan Allah memberikan keringanan bagi penderitaannya.
Singkatnya, sang hamba itu gagallah berangkat ke tanah suci. Sebuah
ambisi pribadi pengabdian kepada Rabbnya yang telah lama diidamkan.
Namun dalam hatinya dia puas karena mampu memberikan secercah harapan
dan ketenangan kepada tetangga yang tergeletak lemah dan tak berdaya itu.
Dari kota terdekat dari kampung tukang sepatu ini juga ternyata ada
beberapa orang yang menunaikan haji pada tahun yang sama. Bahkan
beberapa di antaranya berangkat menunaikan ibadah haji untuk ke sekian
kalinya.
Singkat cerita, tibalah masa wukuf di Arafah. Sang hamba yang gagal
berangkat haji itu kembali menggeluti pekerjaan hari-harinya dengan
penuh ikhlas. Gembira dalam setiap saat bersama ridha Tuhannya.
Hatinya seolah bernyanyi ria dalam genggaman rahasia Ilahi. Bergerak
mengikuti hempasan ombak takdir kekuasaanNya. Gerakan-gerakan
tangannya selalu teriringi oleh pujian dan tasbih kepada sang Khaliq,
Pencipta alam semesta.
Sementara itu, manusia di padang Arafah hanyut dalam kekhusyu’an
ibadah mereka. Terdengar lafaz-lafaz dzikrullah dan pujian dalam
AsmaNya. Siang yang terik itu menjadikan sebagian para haji tertidur
diirngi tasbih dan kekhusyu’an
Salah seorang dari jama’ah yang berada di padang Arafah itu adalah
seorang saudagar kaya dan terpandang dari sebuah kota dekat
perkampungan hamba Allah yang miskin tadi. Sang saudagar ini tertidur
pulas di tengah-tengah kekhusyu’an manusia memuja Rabb mereka. Dalam
tidurnya itu, sang saudagar ini bermimpi ketemu dengan Rasulullah SAW.
Beliaupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu bertanya kepada
Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara hamba-hamba
Allah yang menunaikan ibadah haji tahun ini yang diterima sebagai haji
mabrur?”
Rasulullah kemudian menjawab dengan tersenyum ramah: “Si fulan, seraya
menyebutkan nama sang hamba miskin itu”.
Saudagar itu terkejut dan ingin tahu siapa gerangan dia yang beruntung
itu. Maka beliaupun menyambung pertanyaannya: “wahai Rasulullah, siapa
gerangan dia dan berasal dari mana?”
Rasulullah kembali menjawab dengan ramah: “Dia adalah seorang hamba
Allah dari perkampungan fulan, seraya menyebutkan nama kampugnya”.
Mendengarkan itu, saudagar itu terkejut dan hampir tidak percaya. Mana
mungkin, pikirnya, ada seseorang yang pergi haji dari kampung itu.
Semua penduduknya adalah miskin. Penghasilannya tidak mungkin
mencukupi untuk seseorang bisa menunaikan ibadah haji. Pergolakan
batin sang haji itu yang setengah percaya dan tidak menjadikannya
terbangun.
Setelah menunaikan ibadah hajinya, saudagar itu segera kembali ke
kotanya. Keinginannya sangat besar untuk tahu siapa gerangan orang
yang mendapatkan haji mabrur dari perkampungan yang disebutkan itu.
Ditelusurinya kampung itu, tapi tak seorang pun mengaku melakukan
ibadah haji. Lalu dia teringat nama yang disebutkan oleh Rasulullah
SAW tadi, maka dicarinya orang itu. Ternyata dia hanyalah seorang
tukang semir sepatu yang miskin.
Saudagar itu pun meminta sang penyemir itu menceritakan perihal
dirinya, dan sampai Rasulullah SAW menjamin baginya haji mabrur. Maka
dengan tenang tapi dengan hati yang bahagia sang penyemir itu
bercerita panjang, mulai dari niatannya untuk haji, mengumpulkan
perbekalan sedikit demi sedikit, hingga saat-saat pemberangkatan dan
bantuannya kepada tetangganya yang membutuhkan.
“Barangkali niatku yang bulat dan kerja keras dan tekadku itu yang
diterima. Sayapun ikhlas dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada
Allah SWT.”, katanya sambil tersenyum melirik pak haji.
Tak lupa juga sang penyemir sepatu ini menyampaikan selamat kepada
sang haji seraya berdoa semoga mendapatkan haji mabrur.
Haji Mabrur
Di saat di Padang Arafah, Abu Bakar pernah ditanya oleh seorang
sahabat: “apakah itu haji mabrur wahai Abu Bakar?”.
“Engkau akan melihat apakah haji kamu mabrur atau tidak di Madinah
nanti” jawabnya singkat.
Haji mabrur memang menjadi impian setiap pelaku ibadah haji. Dalam
titahnya, Rasulullah SAW menjelaskan: “dan haji yang mabrur tiada
balasan baginya kecuali syurga”.
Untuk mendapatkan janji inilah, setiap Muslim akan melakukan berbagai
upaya dan pengerbonan agar dapat menunaikan ibadah haji dan sekaligus
melakukan berbagai ibadah yang dapat menjadikan hajinya mabrur (baik)
atau maqbul (diterima).
Sayang, pemahaman tentang makna haji mabrur itu seringkali dibatasi
oleh dinding-dinding ritual yang ketat. Dalam memahami mabrur atau
tidaknya haji seseorang tidak atau jarang melihat jauh di balik dari
praktek-praktek ritual yang terkait dengan haji. Perhatian sepenunya
terkadang hanya pada sebatas apakah rukun-rukun, wajib maupun
sunnah-sunnah haji terpenuhi secara baik.
Pertanyaannya, itukah semua tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan
ibadah haji? Apakah ibadah haji sekedar dimaksudkan untuk mengumpulkan
pahala sebanyak-banyaknya? Atau barangkali sekedar dimaksudkan untuk
membersihkan dosa-dosa masa lalu?
Jawabannya pasti tidak. Ibadah dalam Islam tidak maksudkan justeru
untuk membangun “egoisme” pribadi, walau itu atas nama penyembahan.
Ruku’ dan sujud seorang hamba seharusnya tidak dibangun di atas
kepuasan pribadi atau keinginan untuk merasakan ketenangan dan
kebahagiaan individu saja, walau itu atas justifikasi akhirat.
Inilah rahasia dari ungkapan Abu Bakar kepada seorang sahabat bahwa
hajinya akan diketahui mabrur atau tidak di saat telah kembali ke
Madinah (kampung halamannya). Bahwa di saat kembali berada di
tengah-tengah kehidupan kesehariannya, terjadi perubahan yang positif.
Imannya menjadi semakin “tajam” sehingga mampu menembus kuatnya
batas-batas wujud material ini. Ibadahnya semakin “dalam” (ikhlas) dan
bertambah. Apalagi, kelakuan sosialnya akan semakin tumbuh secara
positif, menjadikan semua di sekitarnya merasai aman dan tenteram
karena sang haji.
Haji Sosial
Berdoman kepada cerita si tukang sepatu maupun jawaban Abu Bakar R.A.
di atas jelas bahwa haji adalah amalan ibadah dalam Islam yang
memiliki konsekwensi sosial yang tinggi. Betapa tidak, panggilan
berhaji dalam Islam itu sendiri dikumandangkan dalam bentuk panggilan
“kemanusiaan” : Dan kumandangkanlah kepada manusia (wahai Ibrahim)
untuk datang berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu (untuk
berhaji) dengan berjalan kaki dan mengendarai onta-onta yang jinak.
Mereka berdatangan dari seluruh penjuru yang jauh (Al Qur’an).
Ketika Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk berhaji dalam Al
Qur’an, juga dipakai panggilan “kemanusiaan” : Dan bagi Allah atas
manusia untuk berhaji kepada Baitullah, bagi siapa yang mampu (Al Qur’an).
Kedua hal dia atas menunjukkan ikatan sosial kemanusiaan yang terdapat
dalam ibadah haji itu. Dan kenyataannya memang demikian. Di saat musim
haji, mereka yang datang ke tempat-tempat suci itu hanya dipandang
dengan satu pandangan, yaitu “pandangan kemanusiaan” . Mereka tidak
lagi dipandang dalam ikatan-ikatan sosial dan keduniaan lainnya. Hanya
satu kriteria yang membedakan di antara mereka, kriteria ketakwaan
yang tidak ditentukan oleh afiliasi sosial manusia.
Kesadaran nilai sosial dalam haji ini seharusnya ditumbuh suburkan di
saat menusia diterkam oleh gaya hidup egoistik dunia modern.
Dinding-dinding pembatas sosial begitu kuat menjadikan manusia
kehilangan koneksi batin. Dinding-dinding itu menjadikan manusia
saling menilai, bukan lagi dengan penilaian kemanusiaannya, tapi lebih
dekat kepada penilaian hewaninya. Manusia saling berbangga dengan ras,
suku, warna kulit, kebangsaan, dan tentunya tingkatan perekonomiannya.
Seolah semua inilah yang menentukan harga diri (dignity) seorang anak
insan.
Kemampuan menembus dinding-dinding pembatas sosial menjadi sebab
tumbuhnya rasa solidaritas yang tinggi. Kesenangan atau penderitaan
sesama di sekitarnya akan mudah terlacak karena ada rasa kemanusiaan
yang tinggi. Ada sensitivitas yang tajam untuk merasakan apa yang
terjadi di sekitarnya. Terbangun kesadaran sosial yang tinggi sebagai
akibat dari sensitivitas tadi. Perbedaan sosial atau status ekonomi
tidak menjadi penghalang untuk merasakan apa yang terjadi di sekitarnya.
Disebutkan dalam sejarah bahwa suatu ketika Umar bin Khattab pernah
berangkat ke Jum’atan sambil memegang perutnya. Ketika ditanya oleh
seorang sahabat, apa gerangan yang terjadi? Umar menjawab: “Demi Allah
saya lapar dan tidak akan merasakan kenyang selama anak-anak yatim dan
kaum miskin masih merasakan kelaparan”.
Beliaulah yang pernah bertanya kepada seorang sahabtnya: “Apakah
engkau tidur dengan baik semalam?”. Sahabat menjawab: “Iya Umar, saya
tidur dengan nyenyak”. Umar memberitahu: “Demi Allah, saya tidak
nyenyak tidur dalam 3 malam ini karena khawatir akan dimintai
pertanggung jawaban oleh para janda, anak yatim dan kaum miskin pada
hari kiamat nanti”.
Di suatu malam beliau ke luar dari rumahnya untuk melakukan pengecekan
langsung situasi kota Madinah. Dari kejauhan beliau melihat api yang
menyala. Ketika mendekat didapatilah seorang ibu yang nampaknya sedang
memasak. Umar bertanya: “Apa yang anda sedang masak dan kenapa memasak
di pertangahan malam?” Sang ibu menjawab: “Sungguh saya memasak
batu-batuan untuk menghibur anak-anakku yang kelaparan. Mudah-mudahan
dengan melihat nyala api ini mereka tertidur sambil menunggu makanan
ini siap untuk dihidangkan” .
Sang ibu itu melanjutkan: “Saya hanyalah seorang janda yang punya
banyak anak. Umar sebagai pemimpin tidak bertanggung jawab membiarkan
kami kelaparan seperti ini” sambil terus menerus menuduh Umar tidak
bertanggung jawab tanpa menyadari bahwa yang berdiri di hadapannya
adalah Umar sendiri.
Tanpa berbicara sepatah kata, airmata Umar mengalir membasahi pipi dan
janggut beliau mendengarkan pengaduan ibu itu. Beliau kemudian
meninggalkan ibu itu dan kembali ke Madinah malam itu juga langsung
menuju baitul mal (gudang penyimpangan bahan-bahan bantuan).
Diambilnya sekarung gandum dan beberapa potong lauk (syahm) dan
dipikulnya sendiri kembali menuju tempat ibu tadi. Di tengah jalan
beliau berpapasan dengan seorang sahabat. Sahabat terkejut melihat
Umar memikul sekarung gandum. Beliau menawarkan diri untuk membawakan
karung tersebut. Tawaran itu ditolak olehnya seraya berkata: “Akankah
engkau mengambil alih tanggung jawabku di hadapan Allah kelak?”.
Sungguh contoh solidaritas sosial yang agung dari sahabat dan pemimpin
agung. Bahwa accountability (pertanggung jawaban) bukan sekedar
duniawi sifatnya, tapi yang lebih penting adalah pertanggung jawaban
di Akhirat kelak.
Bukankah masanya, di saat jutaan manusia menjerit dalam genggaman
kerisauan ekonomi, tiada pekerjaan, harga kebutuhan pokok yang
melonjak, manusia seharusnya tersadarkan akan urgensi haji sosial. Di
saat saudara-saudara sebangsa dan seiman hidup dan menghidupi
keluarganya di bawah kolon-kolon jembatan itu, di saat-saat para ayah
bercucuran keringat tanpa pernah mencukupi kebutuhan keluarganya, di
saat ribuan anak-anak potensi bangsa harus kehilangan kesempatan
belajar karena biaya pendidikan yang tinggi, kita tersadarkan oleh
hajinya sang tukang sepatu. Haji yang terbangun di atas fondasi
kesadaran sosial yang tinggi dan bukannya haji yang semakin membawa
kepada prilaku egoistik atas nama Tuhan dan ridhaNya.
Wallahu a’lam!






