:: topengdigital ::

November 20, 2009

Yu Timah ….berkurban

Filed under: Qolbu

Yu Timah ….
———— ——— — ——— —
(catatan Ahmad Tohari Menjelang Hari Raya Kurban)
copy paste milis tahajud

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami.

Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT)

yang kini sudah berakhir. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya.

Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu,tak punya sumur sendiri.

Bahkan status tanah yang di tempati gubuk

YuTimah adalah bukan milik sendiri.Usia Yu Timah sekitar lima puluhan,

berbadan kurus dan tidak menikah.Dia sebatang kara.

Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta . Namun, seiring usianya yang terus meningkat,

tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumahtangga.

Dia kembali ke kampung kami.

Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah

bersama emaknya yang sudah sangat renta.

Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga

yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri.

Maka ia berjualan nasi bungkus.

Pembeli tetapnya adalah para santri yangsedang mondok di pesantren kampung kami.

Tentu hasilnya tak seberapa.Tapi Yu Timah bertahan.

Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya.

Saya sudah mengira pasti diamau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya.

Semiskin itu Yu Timah masihbisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah

di mana saya ikutjadi pengurus.

Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor.

Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf.

Dia menabung Rp5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan.
Namun setelah menjadi penerima SLT,

Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu.

Dan Saldo terakhir YuTimah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya.

Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

“Pak, saya mau mengambil tabungan,”

kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

“O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore.

Bank kita sudah tutup.
Bagaimana bila Senin?”

“Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak buru-buru.”

“Mau ambil berapa?” tanya saya.

“Enam ratus ribu, Pak.”

“Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”

Yu Timah tidak segera menjawab.

Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

“Saya mau beli kambing kurban, Pak.

Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan,

cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya.

Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam.

Karena lama tidak memberikan tanggapan,

mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya.

Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan

oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

“Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu.

Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban.

Yu Timah bahkan wajib menerima kurban

dari saudara-saudara kita yang lebih berada.

Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat

hendak membeli kambing kurban?”

“Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban.

Selama ini memang saya hanya jadi penerima.
Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

“Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar.

Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.
Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati,

lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu

bisa punya keikhlasan demikian tinggi

sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?

Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji

yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya.

Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu.

Kamu yang belum naik haji,

atau tidak akan pernah naik haji,

namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban.

Kamu sangat miskin,

tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus.

Uangmu malah kamu belikan kambing kurban.

Ya, Yu Timah.

Meski saya dilarang dokter makan daging kambing,

tapi kali ini akan saya langgar.

Saya ingin menikmati daging kambingmu

yang sepertinya sudah berbau surga.

Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

October 23, 2009

LAMARANMU KUTOLAK!

Filed under: Qolbu

copypaste dari milis tahajjud_call@ yahoogroups. com
(Kisah Sederhana, Jenaka tapi Penuh Makna)
*Copas dari Manajemen_Mentoring Milist.

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.
Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk
melanjutkannya menuju khitbah.

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.
Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru
pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang
sekarang amatlah berbeda.

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka
menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang
lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’
sang perempuan muda, dari sisinya.

“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.
“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang setengah baya
sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak
bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model
seperti itu!” balas sang setengah baya.
Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal
sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”
“Lamaranmu kutolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku
takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.
Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya,
keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang
lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”

“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di
Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.
“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama
istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo
rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak
yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”
“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok
mau ngatur keluargamu?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus
terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM
ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya
saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”
“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik
anak-anakmu kelak?”

Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera
jualan produk saya Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu
nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”
“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak
terlalu laku.”
“Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu,
kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?”
“Seperangkat alat shalat Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”
“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan
uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”
“Kamu bisa apa itu, internet?”
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak
saya nge-net.”
“Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan
anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,
Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”

Bisikan, “Tapi Ayah…”
“Kamu kesini tadi naik apa?”
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya
Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”
“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”
“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini
namanya payah. Memangnya anakku supir?”

Bisikan, “Ayahh..”
“Kamu merasa ganteng ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang
cantik ini.”
“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”

Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan
soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”
Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang
muda yang sudah menyerah pasrah.
“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur’an dan Hadits?”
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh
juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.
Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”
Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu
cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja
pun, aku masih tertatih.”
Mata sang muda ikut berkaca-kaca.

Ini harus happy ending, bukan?

August 29, 2009

Lucu Ya

Filed under: Qolbu

copy paste dari milis tahajud
MARI KITA RENUNGKAN

Lucu ya, uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila
dibawa ke kotak amal mesjid, tapi begitu kecil bila kita
bawa ke supermarket.
Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir,
tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan
sepakbola.
Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi
betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran
film di bioskop.
Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat
berdoa atau sholat, tapi betapa mudahnya cari bahan
obrolan bila ketemu teman.
Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan
bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat
Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya. Lucu ya, susah
banget baca Al-Quran 1 lembar saja, tapi novel best-seller
100 halaman pun habis dilalap.
Lucu ya, orang-orang pada berebut paling depan untuk
nonton bola atau konser tapi berebut cari shaf paling
belakang bila Jumatan agar bisa cepat keluar.
Lucu ya, kita perlu undangan pengajian 3-4 minggu
sebelumnya agar bisa disiapkan di agenda kita, tapi untuk
acara lain jadwal kita gampang diubah seketika.
Lucu ya, susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah,
tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip.
Lucu ya, kita begitu percaya pada yang dikatakan koran,
tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al
Quran.
Lucu ya, semua orang penginnya masuk surga tanpa harus
beriman, berpikir, berbicara ataupun melakukan apa-apa.
Lucu ya, kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email, tapi
bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah / pengetahuan
ke-Islaman sering mesti berpikir dua-kali.

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin
bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari
Allah.” (QS. 33:47)

Wassalam

juju junaedi

August 15, 2009

Salah Tujuan

Filed under: Qolbu

copy paste dari milis tahajudcall
Karunia, 22/06/1430 (16/06/2009)

Seorang manusia keluar dari rumahnya di pagi hari, dengan tekad bulat menujut tempat kerja. Menembus kemacetan jalan ibukota yang semrawut, yang terkadang “selak-selakan” dengan orang lain tanpa peduli orang itu, yang mungkin sedang berusaha teratur ditengah kemacetan. Selesai memarkir kendaraan tujuan selanjutnya adalah membeli sarapan, tanpa ada rasa ingin tahu apakah makanan itu halal dan thoyyib.

Di tempat kerja, dia bekerja sesuai “job description” dan mengikuti perintah atasan-atasannya. Ditengah meeting terdengarlah suara adzan dzuhur, tanpa terlalu mempedulikannya meeting tetap berjalan hingga waktu makan siang. Di tengah perjalanan menuju tempat makan siang dia berpapasan dengan jamaah sholat dzuhur, “Assalamualaikum, sudah sholat belum?”, jawabnya “Iya nanti, makan siang dulu”, melangkahlah dia menuju tempat makan siang yang menurutnya enak. Setelah makan siang dia melaksanakan sholat dzuhur lalu kembali ke tempat kerjanya.

Ditengah kesibukannya bekerja, seorang atasannya menghampiri, “Tolong kerjakan laporan ini, saya tunggu sampai sebelum pulang nanti”. Dengan tekunnya dia mengerjakan tugas yang baru saja diberikan, lalu terdengarlah sayup-sayup adzan ashar dari komputer temannya. “Yuk kita sholat ashar”, jawabnya “Duluan deh, tanggung nih sebelum pulang harus selesai”. Pukul 4.45 tugas itu selesai dengan baik, maka diberikan kepada atasannya. “Wah bagus sekali, saya suka kamu karena rajin”, lalu dia menuju mushola dan melakukan sholat ashar.

Dalam perjalanan pulang terdengar suara adzan maghrib di setiap masjid yang dilewatinya, tapi dia cuma melewatinya. Hari telah gelap ketika sampai di rumah, dia langsung melaksanakan sholat maghrib. Selesai sholat maghrib langsung terdengar suara adzan isya, tanpa mengambil wudhu lagi dia langsung melanjutkan ke sholat isya.

Begitulah sekelebat kisah seorang manusia dalam rutinitasnya sehari-hari. Berusaha membangun karirnya yang terbaik, dengan cara berangkat tepat waktu dan melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Citra dirinya sangatlah penting demi membangun karir yang bagus. Tapi sadarkah bahwa kesan yang seakan bagus itu ternyata buruk dalam pandangan Allah? Di perjalanan dia lebih membela dirinya daripada melakukan keadilan terhadap orang lain yang menggunakan jalan itu juga. Tanpa ada khawatir apakah Allah ridho, dia membeli makanan asalkan rasanya enak. Setiap panggilan untuk menghadap Allah selalu dikalahkan kepentingan lainnya. Dan dia menganggap remeh sholat yang dilakukan diakhir waktu.

Ketidaksadaran akan dirinya, bahwa hanya seorang hamba (budak) dari tuan yang sangat pengasih dan pemurah. Telah dicukupkan segala rizkinya, disehatkan badannya, dan dimudahkan urusannya, tetapi tidak mampu melihat itu semua. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah memberikan peringatan kepada orang-orang yang sibuk:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)” HR. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim

“Tuhan kalian berkata, Wahai anak Adam!, beribadahlah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, jangan jauhi Aku, sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan” HR. Al-Hakim

Maka bagi orang-orang yang tenggelam dalam kesibukan dunia, bersiaplah untuk menerima kesibukan yang lebih banyak lagi, dan dengan hati yang penuh dengan kemiskinan. Dapat kita lihat orang-orang yang sibuk mengejar dunia seperti meminum air laut, semakin diminum semakin bertambah haus.


———— ——-
Karunia
———— ——-

Agus Wahyono
Warehouse / Logistic
Supply Chain Department
PT BlueScope Steel Indonesia
Kawasan Industri KIEC, Jln Asia Raya Kav 02 Cilegon 42443
Phone: (+62 254) 393 680; Fax: (+62 254) 393 326
Ext. 107

July 22, 2009

KHUSYUK LAH…

Filed under: Qolbu

Copy paste dari milis dzikir

KHUSYUKLAH, biar kita bisa SHALAT…
Kalau tidak, maka shalat itu akan menjadi sangat berat
Kalau tidak, maka shalat itu akan jadi beban.
Kalau tidak, maka shalat itu akan melelahkan.

KHUSYUKLAH, biar kita bisa SHALAT…
Kalau tidak, maka kita akan shalat dengan malas-malasan.
Kalau tidak, maka kita akan shalat sambil melamun.
Kalau tidak, maka kita akan shalat dalam keadaan mabok.

KHUSYUKLAH, biar kita bisa SHALAT…
Kalau tidak, maka kita hanya akan membaca syair dan puisi dalam shalat.
Kalau tidak, maka kita hanya akan ngelindur dalam shalat.
Kalau tidak,maka kita hanya akan komat kamit dalam shalat.

KHUSYUKLAH, biar kita bisa SHALAT…
Kalau tidak, maka shalat kita akan buru-buru.
Kalau tidak, maka shalat kita akan seperti burung mematuk makanan.
Kalau tidak, maka shalat kita akan berpacu cepat.

KHUSYUKLAH biar kita bisa SABAR…
Kalau tidak, maka beban hidup kita akan terasa berat.
Kalau tidak, maka dada kita akan terasa sempit.
Kalau tidak, maka otak kita akan sering mendidih.

KHUSYUKLAH biar kita bisa SABAR…
Kalau tidak, maka kita akan sering protes kepada Allah.
Kalau tidak, maka kita akan sering mengeluh dalam hidup.
Kalau tidak, maka kita akan sering marah yang berbuah marah.

KHUSYUKLAH biar kita bisa SABAR…
Kalau tidak, maka kita akan sering merendahkan teman.
Kalau tidak, maka kita akan sering menyalahkan teman.
Kalau tidak, maka kita akan sering menghakimi teman.

KHUSYUKLAH biar kita bisa SABAR…
Kalau tidak, maka kita akan jadi sang angkuh.
Kalau tidak, maka kita akan jadi sang sombong.
Kalau tidak, maka kita akan jadi sang egois.

KHUSYUKLAH biar kita bisa SABAR…
Kalau tidak, maka kita akan jadi sang angkara.
Kalau tidak, maka kita akan jadi sumber sengsara.
Kalau tidak, maka kita akan jadi sumber petaka.

Latihlah KHUSYUK biar kita bisa SHALAT dan SABAR.
Mohonlah KHUSYUK biar kita bisa SHALAT dan SABAR.
Bersedialah agar kita bisa DIKHUSYUKAN ALLAH.
Diamlah agar bisa duduk di posisi “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.

Sebab…
Khusyuk adalah bertemu dengan Allah (mulaqu rabbihim) disini.
Dan semua kembalkan(mi’raj) kepada Allah saat ini.

Khusyuk adalah berjumpa dengan Allah saat ini.
Khusyuk adalah meringkuk disisi Allah saat ini.
Khusyuk adalah bergantung kepada Allah saat ini.
Khusyuk adalah berpegangan dengan Allah saat ini.
Khusyuk adalah saling berpandangan dengan Allah saat ini.
Khusyuk adalah berdialog dengan Allah saat ini.

Kemudian…
Segala pujaan kembalikankan ke Allah.
Segala pujian kembalikankankan ke Allah.
Segala hormat kembalikan ke Allah.
Segala sembah kembalikan ke Allah.

Penglihatan kembalikan ke Allah.
Pendengaran kebalikan ke Allah.
Hidup kembalikan ke Allah.
Tahu kembalikan ke Allah.
Gerak kembalikan ke Allah.
Bisa kembalikan ke Allah.
Ada kembalikan ke Allah.

Inna shalati…
Wanusuki…
Wamahyaayaa. ..
Wamamaatii.. .
Lillahirabbil ‘alamiin…

Lalu…, DERR…
Gerak kita akan dikunci oleh Allah.
Berdiri kita akan dikunci oleh Allah.
Rukuk kita akan dikunci oleh Allah.
Sujud kita akan dikunci oleh Allah.
Sembah kita akan dikunci oleh Allah.
Penglihatan kita akan dikunci oleh Allah.
Pendengaran kita akan dikunci oleh Allah.
Bacaan kita akan dikunci oleh Allah.

Makanya…
Ketika khusyuk akan ada respon Allah.
Ketika khusyuk akan ada jawaban Allah.
Ketika khusyuk akan ada tuntunan Allah.
Ketika khusyuk akan ada pertolongan Allah.
Ketika khusyuk akan ada Shibgatullah (celupan) Allah.

Shibgatullah. ..
Masih adakah shibgah (celupan) yang lebih baik dari celupan Allah…?.

Jl. Kabel no 16, Cilegon,
26 Juni 2008, jam 04:00

Wass
Deka

June 27, 2009

Penjual tempe

Filed under: Qolbu

copy paste dari milis tahajud

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, tempat tinggal seorang ibu penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lakukan sebagai menyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.

“Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ” demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi…….deg !! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, ditengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…”

Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh.

Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…”

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut.

“Keajaiban Tuhan akan datang….pasti, ” yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “kehendak” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu.

“Pasti sekarang telah jadi tempe !” batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, airmata menitik di keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi?

Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk. Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar… merasa sendirian. Allah telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan.

Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat. Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya.

“Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??” Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe ….”

Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. “Jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ….”
“Bagaimana Bu ? Apa ibu menjual tempe setengah jadi ?” tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca ?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi ! “Alhamdulillah! ” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”

“Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu ?”

Sahabatku, ini kisah yang biasa bukan ? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa…..dan “memaksakan” agar …..Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna..

Wallahu’alam Bishshawaab…..

NB : Nama asli Maman adalah iman wahyu ardiansyah sekarang beliau ada di pt. cji pasuruan

May 20, 2009

Sebelum kamu mengeluh…

Filed under: Qolbu

copy paste dari milis ( …Lupa…)
Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan
tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali!!!

Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang
seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan!!!

Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang
yang meminta-minta dijalanan!!!

Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang
yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya!!!

Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang
seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberi teman hidup!!!

Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang
seseorang yang meninggal terlalu cepat!!!

Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang
yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul!!!

Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu
tidak melakukan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di
jalanan!!!

Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan
tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan!!!

Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan
tentang pengangguran dan orang-orang cacat yang berharap mereka
mempunyai pekerjaanmu!!!

Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah
bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa!!!

Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
tersenyumlah dan berterimakasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih
hidup!!!

Life is a gift………
Live it………
Enjoy it………
Celebrate it………
And fulfill it.

Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu
Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan
Kamu tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan
Mereka cantik atau tampan karena kamu mencintainya……

It’s true you don’t know what you’ve got until it’s gone…
But it’s also true you don’t know what you’ve been missing until it’s arrives!!!

Peace….

April 12, 2009

Hikmah Pengharaman Babi

Filed under: Qolbu

copy paste tahajjud_call@yahoogroups.com

Assalamualaikum Wr Wb

Bismillahirrohmaani rrohiim

Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.

Dalam kesempatan ini, saya sitir kembali kejadian yang berlangsung ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis.

Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam.

Mereka bertanya kepada Imam, “Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya.

Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi.

Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya.?”

Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina.

Mengetahui hal itu, mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?” Beliau menjawab, “Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia.”

Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang.

Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas.

Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut.

Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina.

Kali ini mereka menyaksikan keanehan.
Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.

Selanjutnya beliau berkata, “Saudara-saudara, daging babi membunuh ‘ghirah’ orang yang memakannya.
Itulah yang terjadi pada kalian.

Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya.”

Kemudian beliau memberikan contoh yang baik sekali dalam syariat Islam.

Yaitu Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran di sekitar kita, yang memakan kotorannya sendiri.

Syariah memerintahkan bagi orang yang ingin menyembelih ayam, bebek atau angsa yang memakan kotorannya sendiri agar mengurungnya selama tiga hari, memberinya makan dan memperhatikan apa yang dikonsumsi oleh hewan itu.

Hingga perutnya bersih dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba. Karena penyakit ini akan berpindah kepada manusia, tanpa diketahui dan dirasakan oleh orang yang memakannya.

Itulah hukum Allah, seperti itulah hikmah Allah.

Ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan banyak penyakit yang disebabkan mengkonsumsi daging babi.

Sebagian darinya disebutkan oleh Dr. Murad Hoffman, seorang Muslim Jerman, dalam bukunya “Pergolakan Pemikiran:

Catatan Harian Muslim Jerman”, halaman 130-131: “Memakan daging babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tetapi juga dapat menyebabkan meningkatnya kandungan kolestrol dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh, yang mengakibatkan kemungkinan terserang kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rematik.

Bukankah sudah kita ketahui, virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang pada musim panas karena medium babi?”

Dr. Muhammad Abdul Khair, dalam bukunya Ijtihâdât fi at Tafsîr al Qur’an al Karîm, halaman 112, menyebutkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh daging babi: “Daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan cacing trachenea lolipia.

Cacing-cacing ini akan berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi tersebut.

Patut dicatat, hingga saat ini, generasi babi belum terbebaskan dari cacing-cacing ini.

Penyakit lain yang ditularkan oleh daging babi banyak sekali, di antaranya:

Kolera babi. Yaitu penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus

Keguguran nanah, yang disebabkan oleh bakteri prosillia babi.

Kulit kemerahan, yang ganas dan menahun.

Yang pertama bisa menyebabkan kematian dalam beberapa kasus, dan yang kedua menyebabkan gangguan persendian.

Penyakit pengelupasan kulit.
Benalu eskares, yang berbahaya bagi manusia.

Fakta-fakta berikut cukup membuat seseorang untuk segera menjauhi babi:

Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya.
Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya.

Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya.

Ia mengencingi kotoranya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali.
Ia memakan sampah, busuk-busukan, dan kotoran hewan.
Ia adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama, jika dibiarkan.

Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
Penelitian ilmiah modern di dua negara Timur dan Barat, yaitu Cina dan Swedia –Cina mayoritas penduduknya penyembah berhala, sedangkan Swedia mayoritas penduduknya sekular– menyatakan: daging babi merupakan merupakan penyebab utama kanker anus dan kolon.

Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis.
Terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India).
Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di
Sao Paulo.

Kini kita tahu betapa besar hikmah Allah mengharamkan daging dan lemak babi.
Untuk diketahui bersama, pengharaman tersebut tidak hanya daging babi saja, namun juga semua makanan yang diproses dengan lemak babi, seperti beberapa jenis permen dan coklat, juga beberapa jenis roti yang bagian atasnya disiram dengan lemak babi.

Kesimpulannya, semua hal yang menggunakan lemak hewan hendaknya diperhatikan sebelum disantap.
Kita tidak memakannya kecuali setelah yakin bahwa makanan itu tidak mengandung lemak atau minyak babi, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT, dan tidak terkena bahaya-bahaya yang melatarbelakangi Allah SWT mengharamkan daging dan lemak babi.

Dari buku: Hidangan Islami: Ulasan Komprehensif Berdasarkan Syari’at dan Sains Modern

Penulis: Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid

Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani, Cet : I/1997

Penerbit: Gema Insani Press

March 19, 2009

Rezeki barokah

Filed under: Qolbu

Copy paste dari milis samarindahack

Pernah tidak mengalami ketakutan akan kekurangan atau tidak memiliki rejeki, saya sering mengalaminya, saya sering merasa memiliki penghasilan tapi cuma numpang lewat, abis gajian saya pos-poskan uang pada keperluan masing masing dan akhir tengah bulan terkadang tidak memiliki cukup uang terkadang sering juga kembang-kempis. tapi ada sesuatu yang luar biasa yang saya rasakan walaupun kondisi kantong kembang kempis tapi alhamdulillah saya bisa melewati setiap bulan dengan selamat.

Ada seorang sahabat yang ternyata pendapatanya lebih besar dari ternyata tidak pernah bisa menabung, dan malah memiliki banyak hutang, loh kenapa…? dari sebuah obrolan yang panjang sahabat saya bercerita bahwa dia mendapat uang dari Gaji+”ngobjek”. kenapa “ngobjek” saya kasih tanda kutip, karena usahanya adalah mencari lebih dengan cara yang tidak halal, misal dia mencari lembur, padahal tidak ada kerjaan, dia diam-diam mengambil barang bekas perusahaan utuk dijual kembali. Beliau ikut belanja, ketika perusahaa meminta untuk belanja untuk keperluan kantor.

Sahabat saya bercerita bahwa ketika dia mendapat pendapatan yang lebih dari cukup dari hasil ngobyeknya, setiap bulan banyak saja pengeluaran yang harus dikeluarkan, misal ketika kendaraanya/ barangya rusak,atau dia/keluarga terkena penyakit, atau adanya pembelian suatu barang yang sebenernya tidak dia butuhkan (laper mata). dari diskusi singkat tersebut akhirnya kami menyadari bahwa kita tidak bisa berhitung bahwa risky yang banyak akan membuat kita bisa mencukupi semua kebutuhan hidup kita. yang diperlukan adalah sebuah riski yang berkah.

Dengan rizki yang berkah ini Insya Allah kita terjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, serta di berikan kelapangan manfaat dari sesuatu yang kita miliki. Rizki yang berkah tidak harus berjumlah besar, tapi riski yang berkah memberi manfaat sangat banyak, saya memiliki satu contoh lagi tentang riski yang berkah.

Ada seorang sahabat berprofesi sebagai guru swasta, dengan penghasilan Rp 1.200.000, walau masih diatas UMR, gaji diatas terbilang sangat minimi apa lagi sahabat saya memiliki 2 orang anak untuk dinafkahi, tetapi alhamdulillah sahabat saya itu selalu bersukur dengan apa yang dimilikinya, tidak lupa mengeluarkan zakat 2,5% tiap bulanya, dan sungguh luar biasa sahabat saya ini tidak kekurangan, dan memiliki motor, dan bisa mengambil Kredit rumah. luar biasa.

Dibanding sahabat yang saya ceritakan pertama atau diatas jujur memiliki gaji Rp.2.000.000 dan belum menikah, tapi apa yang terjadi jangankan untuk mengambil kredit rumah untuk kehidupanya 1 bulan pun terkadang sahabat yang saya sebutkan diatas harus mencari hutangan sebelum tanggal gajian.

Kalau di ibaratkan sebuah laporan rugi/laba rizky yang berkah adalah pendapata bersih yang diterima setelah biaya-biaya tidak terduga dan pajak atau kata lainya rizky yang berkah adalah rizky bersih (net) sedangkan rizky yang tidak berkah itu adalah pendapatan kotor sebelum biaya yang dikeluarkan dan pajak, jadi rizky yang tidak berkah adalah rizky kotor. Lalu maksudnya apa Rizky yang berkah itu oleh Allah SWT kita diberikan dengan tidak adanya pemotongan biaya, semua biaya ditanggung Allah, maksudnya seperti contoh sahabat guru saya Alhamdulillah motor yang dimilikinya tidak pernah rusak/awet walau motor yang dimilikinya hanya sebuah motor usang, sedang motor sahabat satu lagi juga memiliki motor dengan keluaran mutakhir tetapi anehnya motornya sering keluar masuk bengkel.

Dari satu kasus kerusakan motor saja apa yang saya bilang biaya rizky berkah itu ditanggung Allah maka jika pengeluran untuk perbaikan sebut saja Rp.300.000, maka pengahasilan sahabat saya yang mendapat Rp.2.000.000 akan berkurang menjadi Rp.1.700.000, karena adanya biaya perbaikan motor. belum lagi kesehatan sahabat saya yang guru itu yang selalu prima, dan saya akui sahabat saya yang satu sering terkena penyakit maag,atau tidak enak badan. dan hal itu juga sebuah pengurangan lagi, sehingga akhirnya sahabat saya mendapat rezeky yang minus, beda dengan sahabat saya yang guru tersebut.

Dapat dilihat bahwa Rizky berkah itu adalah rizky bersih yang memang hak dari kita, sedang rizky tidak berkah adalah rizky yang kotor yang akan dikurangi oleh biaya-biaya yang tidak terduga. maka mulailah kita mencari rezeki yang berkah. lalu apa yang harus dilakukan untuk mendapat rizky yang berkah.

1.) Carilah rezeki dengan cara yang benar ada pepatah “uang setan akan di makan jin” mulailah mencari rezeki dengan cara yang benar
2.) Selalu bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah, walaupun itu hanya terlihat sedikit. karena sedikit itu adalah rezeky bersih yang kita terima
3.) Keluarkan Sesuatu yang bukan hak kita (zakat penghasilan 2,5%)
4.) Belanjakan Rezeki kita dijalan yang benar

Percuma memiliki harta yang banyak tetapi tidak berkah, banyak contoh telah dipertontonkan, kurang apa para pejabat yang korupsi, tetapi dari harta yang tidak berkah akan ada biaya yang besar yang harus ditanggungnya, mulai dari keutuhab keluarga, kesehatan keluarga, biaya-biaya yang tidak terduga, yang akan membuatnya menjadi sia-sia belaka. jangan tergiur dengan cara mudah mendapat rezeki, karena hanya akan mendatangkan bencana, tidak kah sebuah bencana ketika seorang yang korupsi tertangkap polisi, tersiar di media cetak. atau bencana yang akan datang silih berganti, Lihatlah bagaimana kebakaran telah menghanguskan harta benda, kebanjiran menghancurkan kepemilikan, gempa menenggelamkan yang ada.

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridha dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yang tidak ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tidak akan diberkahi” [HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani]

Maka mari kita cari keberkahan rizky dari Allah SWT, bukan banyaknya Rizki dengan cara yang haram.


Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
———— ——— ——— ——-
SINCERITY, SPEED, INOVATION & INDEPENDENCY

January 15, 2009

Sudah Hilangkah naluri kita

Filed under: Qolbu

Gambar ini menunjukkan anak-anak Palestina yang tewasakibat serangan tentara Israel di hari kesepuluh 5 Januari 2009.

Sudah hilangkah naluri kita bila melihat gambar-gambar di bawah ?
pales1
Bagaimana kalau itu anak-anak kita ?

Cucu-cucu kita yang kita sayangi….

Semoga kita tidak termasuk orang yang lemah Iman..

LA ILLA HA ILLA ANTA SUBHANAKA INI KUNTU MINADHALIMIN. …
pales2
5 Jan 2009
Tiga bersaudara menjadi korban pembantaiana tentara Israel: Samuni, Abu Eisha, and Al-Hilou .

copy paste : sabili.co.id

December 25, 2008

Cinta Ilahi

Filed under: Qolbu

saya tertarik dengan email Dari: djsjah

Seorang perawan desa sedang pergi untuk menemui kekasihnya. Ia melewati seorang Mullah yang sedang melakukan shalat. Karena tidak tahu, ia berjalan di depan Mullah itu, suatu hal yang dilarang oleh agama. Mullah itu sangat marah, hingga ketika gadis itu kembali lewat di dekatnya, ia memarahinya.

Ia berkata. “Alangkah berdosanya, hai gadis muda, berjalan di depanku ketika aku sedang shalat.”

Gadis itu berkata, “Apa artinya shalat?”

Dijawab, “Aku sedang memikirkan Allah, Tuhan langit dan bumi.”

Gadis itu berkata, “Maafkan aku, aku belum tahu Allah dan shalat bagi-Nya, tetapi tadi aku sedang berjalan menuju kekasihku dan memikirkan kekasihku, hingga aku tak melihatmu sedang shalat. Aku heran bagaimana anda yang sedang memikirkan Allah dapat melihatku?”

Perkataan gadis itu sangat berkesan pada Mullah hingga ia berkata, “Sejak saat ini, hai gadis, engkau adalah guruku. Akulah yang harus belajar darimu.”

Wassalam

Topengdigital

October 15, 2008

Hirens BootCD 9.6 with keyboard patch

Filed under: Qolbu

Hiren’s Boot CD is a boot CD containing various diagnostic programs such as partitioning agents, system performance benchmarks, disk cloning and imaging tools, data recovery tools, MBR tools, BIOS tools, and many others for fixing various computer problems. It is a Bootable CD; thus, it can be useful even if the primary operating system cannot be booted. Hiren’s Boot CD has an extensive list of software. Utilities with similar functionality on the CD are grouped together and seem redundant; however, they present choices through UI differences.

—————————————-
Changes from Hiren’s BootCD 9.5 > 9.6
—————————————-
+ HDTune 2.55
+ SIW 2008-09-03
+ Active NTFS Reader Dos 1.0.2
+ 7-Zip 4.57
- F-Prot Antivirus
CPU/Video/Disk Performance Test 5.7
Ghost 11.5
GhostExp.Exe 11.5
Ghost Walker 11.5
HDD Erase 4.0
CTIA CPU Information 2.7
TestDisk 6.10
PhotoRec 6.10
IBM/Hitachi Drive Fitness Test 4.14
IBM/Hitachi Feature Tool 2.11
SeaTools for Dos 1.10
Hard Disk Sentinel 0.02
System Analyser 5.3u
Navratil Software System Information 0.60.32
Astra 5.40
HWiNFO 5.2.2
Drive SnapShot 1.39
Recuva 1.19.350
Restoration 3.2.13
Unstoppable Copier 3.56
HDD Scan 3.1
Express Burn 4.15
JkDefrag 3.36
Process Explorer 11.21
Unlocker 1.8.7
Silent Runners Revision 58
AutoRuns 9.34
CurrPorts 1.50
CPU-Z 1.47
SmitFraudFix 2.354
CCleaner 2.12.651
ProduKey 1.32
WirelessKeyView 1.18
ShellExView 1.23
PC Wizard 2008.1.86
Spybot - Search & Destroy 1.6 (2909)
SpywareBlaster 4.1(2909)
PCI 32 Sniffer 1.4 (2909)
McAfee Antivirus 4.4.50 (2909)
Ad-Aware SE Personal 1.06 (2909)
PCI and AGP info Tool (2909)
Unknown Devices 1.2 (2909)

http://s21.live-share.com/d/f2/8c/353950/Hirens.BootCD.9.6.with.keyboard.patch__9Down.COM.rar

September 27, 2008

Idul Fitri

Filed under: Qolbu

idul fitri

Insya Allah, besok 1 Oktober 2008 kita sudah merayakan Idul Fitri 1429 H
Maaf lahir bathin buat Anda semua

topengdigital

September 13, 2008

E-Book Sholat khusu’

Filed under: Qolbu

Abu Sangkan
Sekilas saya rasakan, buku ini seolah mengajak dan menuntun untuk merasakan, bukan memikirkan!! Ketika rukuk dan sujud, terasa sekali ketenangan ruas-ruas tulang dan otot menjadi rileks. Ketika mengucapkan tasbih dengan penghayatan dan seolah memberikan pujian dihadapan Allah dengan sesungguhnya. Terasa sekali desiran hati akan sentuhan kalimat tayyibah menyusup dengan jelas. Sungguh sajian yang menarik untuk dimiliki dan dirasakan secara langsung.
Kalau masih mempunyai hobbi berdebat lalu mencari kesalahan dan mencari pembenaran atas aliran-aliran fikih dalam Islam, disarankan jangan baca buku ini. Karena saya pikir, khusyu’ itu tidak hanya dimiliki oleh satu aliran fikih saja. Akan tetapi, bisa dirasakan oleh siapa saja yang meyakini akan pertemuannya dengan Allah dikala berdiri shalat. Apapun jalan syariatnya, yang penting sesuai dengan nash yang sudah disepakati oleh jumhur ulama salaf maupun khalaf dan semuanya mengacu kepada hadist Nabi:
Shallu kama raitumuuni ushalli
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat..
Saya sangat appreciate, atas diterbitkannya buku saudara Mardibros. Karena untuk menjalankan shalat yang khusyu’, tidak harus menjadi ahli dalam bidang agama yang luas. Sebagaimana orang yang hendak menunaikan ibadah zakat , haji ataupun berpuasa. Ilmu yang diperlukan hanya sekitar hukum-hukum fikih, zakat, haji dan puasa. Disamping itu, hanya diperlukan sebuah keyakinan adanya Allah yang sangat dekat. Kalau keyakinan itu ada, tidaklah mungkin orang yang meyakini adanya Allah yang Maha Melihat, lalu shalatnya terburu-buru. Kalau dia meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui gerak-gerik hati setiap hamba-Nya, tidak mungkin shalatnya tidak serius.
Masihkah masalah shalat khusyu’ menjadi persoalan yang harus diperdebatkan dan diberikan alasan bermacam-macam. Hanya gara-gara tidak serius atas seluruh ibadahnya, lalu mengatakan shalat khusyu’ itu tidak ada bahkan mengatakan tidak mungkin.
Padahal dengan tegas, Al Qur’an mengatakan :
Qad aflahal mu’minuun, alladziina hum fii shalaatihim khasyi’uun.
Sungguh beruntung orang-orang beriman, yang di dalam shalatnya dilakukan dengan rasa khusyu’. (QS Al Mukminun [23]:1-2).
SKIM
1
Sebaliknya Al Qur’an juga mengatakan bahwa ada shalat yang dilakukan oleh orang-orang munafik.
Innal munaafiqiiina yukhadi’uunallaaha wa huwa khaadi’uhum, idzaa qaamuu ilash shalaati qaamuu kusaalaa yuraauunan naasa wa la yadzkuruunallaaha illaa qaliilaa.
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah juga akan membalas atas tipuannya tersebut. Mereka itu apabila melaksanakan shalat dilakukan dengan perasaan malas, dan mereka tidak serius didalam mengingat Allah kecuali hanya sedikit saja. (QS An Nisaa’ [4]:142)
Singkatnya, shalat itu ada dua jenis yang tercantum dalam Al Qur’an, yaitu shalatnya orang mukmin dan shalatnya orang-orang munafik. Tinggal kita menilai, jenis shalat yang mana yang biasa kita lakukan.
Abu Sangkan
Jakarta, 31 Agustus 2008
SKIM

( Berdasarkan nasehat bapak Mardibros link ini dihapus anda bisa download di bawa ini )

Ups .... ternyata file yang dikirim kemarin bukan hasil editan terakhir.
Ada sedikit koreksi tetapi sangat penting menurut saya.
Mohon file kemarin dihapus dan gunakan file terlampir.

ebook sholat khusu' versi baru download

Wassalam.
mardibros

salam

topengdigital

May 25, 2008

Haji Mabrur dan Tukang Sepatu

Filed under: Qolbu

copy paste dari milis
dzikrullah@yahoogroups.com
From: Send an Instant Message “wagni”

Assalamu Alaikum,
Ada tulisan Menarik Tentang Haji Dibawah ini,
Mudah2an Bisa nyambung dengan pertanyaan Mas Iwan

Wassalam
Tomi

“Haji Mabrur dan Tukang Sepatu”

“Wahai Rasulullah, siapakah di antara hamba-hamba Allah yang
menunaikan ibadah haji tahun ini yang diterima sebagai haji mabrur?”

Oleh: M. Syamsi Ali

Diceritakan bahwa di sebuah perkampungan terpencil ada seorang miskin
yang bekerja sebagai tukang nyemir sepatu. Walaupun tukang penyemir
sepatu dan miskin, semangat dan komitmennya untuk pengabdi kepada
Penciptanya sangat besar. Bahkan tidak ketinggalan mengimpikan untuk
dapat melaksanakan ibadah haji di suatu hari.

Untuk mewujudkan mimpi itu, disisihkanlah penghasilannya dari ke hari,
bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun. Kalaulah seandainya bukan
karena iman dan tawakkal yang tinggi, pastilah hamba Allah ini patah
semangat, sebab uang yang dikumpulkan itu tidak pernah mencukupi biaya
haji yang dibuthkan. Namun didukung oleh semangat penuh dan kerja
keras, hingga suatu ketika dirasa bahwa bekal untuk berhaji telah
mencukupi.

Segala persiapan pun dilakukan. Niat telah bulat, perbekalan ada di
tangan. Kini tinggal memulai perjalanan itu. Hati hamba ini bersuka
ria tiada habis memuji kebesaran Ilahi. Dan tibalah masa untuk memulai
perjalanan itu. Tiba-tiba di saat akan meninggalkan rumahnya terdengar
kabar bahwa tetangganya terjatuh sakit dan memerlukan bantuan keuangan
untuk pengobatan.

Sang hamba itupun mengalihkan langkah kakinya menuju kediaman tetangga
itu. Di lihatnya tetangganya tergeletak lemah, merintih menahan sakit
dan berharap jika ada yang berkenan membantunya untuk meringankan
bebannya itu. Diapun dengan ikhlas dan tekad karena mencari ridha
Allah SWT memberikan bekal perjalanan hajinya kepada tetangga dengan
harapan Allah memberikan keringanan bagi penderitaannya.

Singkatnya, sang hamba itu gagallah berangkat ke tanah suci. Sebuah
ambisi pribadi pengabdian kepada Rabbnya yang telah lama diidamkan.
Namun dalam hatinya dia puas karena mampu memberikan secercah harapan
dan ketenangan kepada tetangga yang tergeletak lemah dan tak berdaya itu.

Dari kota terdekat dari kampung tukang sepatu ini juga ternyata ada
beberapa orang yang menunaikan haji pada tahun yang sama. Bahkan
beberapa di antaranya berangkat menunaikan ibadah haji untuk ke sekian
kalinya.

Singkat cerita, tibalah masa wukuf di Arafah. Sang hamba yang gagal
berangkat haji itu kembali menggeluti pekerjaan hari-harinya dengan
penuh ikhlas. Gembira dalam setiap saat bersama ridha Tuhannya.
Hatinya seolah bernyanyi ria dalam genggaman rahasia Ilahi. Bergerak
mengikuti hempasan ombak takdir kekuasaanNya. Gerakan-gerakan
tangannya selalu teriringi oleh pujian dan tasbih kepada sang Khaliq,
Pencipta alam semesta.

Sementara itu, manusia di padang Arafah hanyut dalam kekhusyu’an
ibadah mereka. Terdengar lafaz-lafaz dzikrullah dan pujian dalam
AsmaNya. Siang yang terik itu menjadikan sebagian para haji tertidur
diirngi tasbih dan kekhusyu’an
Salah seorang dari jama’ah yang berada di padang Arafah itu adalah
seorang saudagar kaya dan terpandang dari sebuah kota dekat
perkampungan hamba Allah yang miskin tadi. Sang saudagar ini tertidur
pulas di tengah-tengah kekhusyu’an manusia memuja Rabb mereka. Dalam
tidurnya itu, sang saudagar ini bermimpi ketemu dengan Rasulullah SAW.

Beliaupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu bertanya kepada
Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara hamba-hamba
Allah yang menunaikan ibadah haji tahun ini yang diterima sebagai haji
mabrur?”

Rasulullah kemudian menjawab dengan tersenyum ramah: “Si fulan, seraya
menyebutkan nama sang hamba miskin itu”.

Saudagar itu terkejut dan ingin tahu siapa gerangan dia yang beruntung
itu. Maka beliaupun menyambung pertanyaannya: “wahai Rasulullah, siapa
gerangan dia dan berasal dari mana?”

Rasulullah kembali menjawab dengan ramah: “Dia adalah seorang hamba
Allah dari perkampungan fulan, seraya menyebutkan nama kampugnya”.

Mendengarkan itu, saudagar itu terkejut dan hampir tidak percaya. Mana
mungkin, pikirnya, ada seseorang yang pergi haji dari kampung itu.
Semua penduduknya adalah miskin. Penghasilannya tidak mungkin
mencukupi untuk seseorang bisa menunaikan ibadah haji. Pergolakan
batin sang haji itu yang setengah percaya dan tidak menjadikannya
terbangun.

Setelah menunaikan ibadah hajinya, saudagar itu segera kembali ke
kotanya. Keinginannya sangat besar untuk tahu siapa gerangan orang
yang mendapatkan haji mabrur dari perkampungan yang disebutkan itu.
Ditelusurinya kampung itu, tapi tak seorang pun mengaku melakukan
ibadah haji. Lalu dia teringat nama yang disebutkan oleh Rasulullah
SAW tadi, maka dicarinya orang itu. Ternyata dia hanyalah seorang
tukang semir sepatu yang miskin.

Saudagar itu pun meminta sang penyemir itu menceritakan perihal
dirinya, dan sampai Rasulullah SAW menjamin baginya haji mabrur. Maka
dengan tenang tapi dengan hati yang bahagia sang penyemir itu
bercerita panjang, mulai dari niatannya untuk haji, mengumpulkan
perbekalan sedikit demi sedikit, hingga saat-saat pemberangkatan dan
bantuannya kepada tetangganya yang membutuhkan.

“Barangkali niatku yang bulat dan kerja keras dan tekadku itu yang
diterima. Sayapun ikhlas dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada
Allah SWT.”, katanya sambil tersenyum melirik pak haji.

Tak lupa juga sang penyemir sepatu ini menyampaikan selamat kepada
sang haji seraya berdoa semoga mendapatkan haji mabrur.

Haji Mabrur

Di saat di Padang Arafah, Abu Bakar pernah ditanya oleh seorang
sahabat: “apakah itu haji mabrur wahai Abu Bakar?”.

“Engkau akan melihat apakah haji kamu mabrur atau tidak di Madinah
nanti” jawabnya singkat.

Haji mabrur memang menjadi impian setiap pelaku ibadah haji. Dalam
titahnya, Rasulullah SAW menjelaskan: “dan haji yang mabrur tiada
balasan baginya kecuali syurga”.

Untuk mendapatkan janji inilah, setiap Muslim akan melakukan berbagai
upaya dan pengerbonan agar dapat menunaikan ibadah haji dan sekaligus
melakukan berbagai ibadah yang dapat menjadikan hajinya mabrur (baik)
atau maqbul (diterima).

Sayang, pemahaman tentang makna haji mabrur itu seringkali dibatasi
oleh dinding-dinding ritual yang ketat. Dalam memahami mabrur atau
tidaknya haji seseorang tidak atau jarang melihat jauh di balik dari
praktek-praktek ritual yang terkait dengan haji. Perhatian sepenunya
terkadang hanya pada sebatas apakah rukun-rukun, wajib maupun
sunnah-sunnah haji terpenuhi secara baik.

Pertanyaannya, itukah semua tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan
ibadah haji? Apakah ibadah haji sekedar dimaksudkan untuk mengumpulkan
pahala sebanyak-banyaknya? Atau barangkali sekedar dimaksudkan untuk
membersihkan dosa-dosa masa lalu?

Jawabannya pasti tidak. Ibadah dalam Islam tidak maksudkan justeru
untuk membangun “egoisme” pribadi, walau itu atas nama penyembahan.
Ruku’ dan sujud seorang hamba seharusnya tidak dibangun di atas
kepuasan pribadi atau keinginan untuk merasakan ketenangan dan
kebahagiaan individu saja, walau itu atas justifikasi akhirat.

Inilah rahasia dari ungkapan Abu Bakar kepada seorang sahabat bahwa
hajinya akan diketahui mabrur atau tidak di saat telah kembali ke
Madinah (kampung halamannya). Bahwa di saat kembali berada di
tengah-tengah kehidupan kesehariannya, terjadi perubahan yang positif.
Imannya menjadi semakin “tajam” sehingga mampu menembus kuatnya
batas-batas wujud material ini. Ibadahnya semakin “dalam” (ikhlas) dan
bertambah. Apalagi, kelakuan sosialnya akan semakin tumbuh secara
positif, menjadikan semua di sekitarnya merasai aman dan tenteram
karena sang haji.

Haji Sosial

Berdoman kepada cerita si tukang sepatu maupun jawaban Abu Bakar R.A.
di atas jelas bahwa haji adalah amalan ibadah dalam Islam yang
memiliki konsekwensi sosial yang tinggi. Betapa tidak, panggilan
berhaji dalam Islam itu sendiri dikumandangkan dalam bentuk panggilan
“kemanusiaan” : Dan kumandangkanlah kepada manusia (wahai Ibrahim)
untuk datang berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu (untuk
berhaji) dengan berjalan kaki dan mengendarai onta-onta yang jinak.
Mereka berdatangan dari seluruh penjuru yang jauh (Al Qur’an).

Ketika Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk berhaji dalam Al
Qur’an, juga dipakai panggilan “kemanusiaan” : Dan bagi Allah atas
manusia untuk berhaji kepada Baitullah, bagi siapa yang mampu (Al Qur’an).

Kedua hal dia atas menunjukkan ikatan sosial kemanusiaan yang terdapat
dalam ibadah haji itu. Dan kenyataannya memang demikian. Di saat musim
haji, mereka yang datang ke tempat-tempat suci itu hanya dipandang
dengan satu pandangan, yaitu “pandangan kemanusiaan” . Mereka tidak
lagi dipandang dalam ikatan-ikatan sosial dan keduniaan lainnya. Hanya
satu kriteria yang membedakan di antara mereka, kriteria ketakwaan
yang tidak ditentukan oleh afiliasi sosial manusia.

Kesadaran nilai sosial dalam haji ini seharusnya ditumbuh suburkan di
saat menusia diterkam oleh gaya hidup egoistik dunia modern.
Dinding-dinding pembatas sosial begitu kuat menjadikan manusia
kehilangan koneksi batin. Dinding-dinding itu menjadikan manusia
saling menilai, bukan lagi dengan penilaian kemanusiaannya, tapi lebih
dekat kepada penilaian hewaninya. Manusia saling berbangga dengan ras,
suku, warna kulit, kebangsaan, dan tentunya tingkatan perekonomiannya.
Seolah semua inilah yang menentukan harga diri (dignity) seorang anak
insan.

Kemampuan menembus dinding-dinding pembatas sosial menjadi sebab
tumbuhnya rasa solidaritas yang tinggi. Kesenangan atau penderitaan
sesama di sekitarnya akan mudah terlacak karena ada rasa kemanusiaan
yang tinggi. Ada sensitivitas yang tajam untuk merasakan apa yang
terjadi di sekitarnya. Terbangun kesadaran sosial yang tinggi sebagai
akibat dari sensitivitas tadi. Perbedaan sosial atau status ekonomi
tidak menjadi penghalang untuk merasakan apa yang terjadi di sekitarnya.

Disebutkan dalam sejarah bahwa suatu ketika Umar bin Khattab pernah
berangkat ke Jum’atan sambil memegang perutnya. Ketika ditanya oleh
seorang sahabat, apa gerangan yang terjadi? Umar menjawab: “Demi Allah
saya lapar dan tidak akan merasakan kenyang selama anak-anak yatim dan
kaum miskin masih merasakan kelaparan”.

Beliaulah yang pernah bertanya kepada seorang sahabtnya: “Apakah
engkau tidur dengan baik semalam?”. Sahabat menjawab: “Iya Umar, saya
tidur dengan nyenyak”. Umar memberitahu: “Demi Allah, saya tidak
nyenyak tidur dalam 3 malam ini karena khawatir akan dimintai
pertanggung jawaban oleh para janda, anak yatim dan kaum miskin pada
hari kiamat nanti”.

Di suatu malam beliau ke luar dari rumahnya untuk melakukan pengecekan
langsung situasi kota Madinah. Dari kejauhan beliau melihat api yang
menyala. Ketika mendekat didapatilah seorang ibu yang nampaknya sedang
memasak. Umar bertanya: “Apa yang anda sedang masak dan kenapa memasak
di pertangahan malam?” Sang ibu menjawab: “Sungguh saya memasak
batu-batuan untuk menghibur anak-anakku yang kelaparan. Mudah-mudahan
dengan melihat nyala api ini mereka tertidur sambil menunggu makanan
ini siap untuk dihidangkan” .

Sang ibu itu melanjutkan: “Saya hanyalah seorang janda yang punya
banyak anak. Umar sebagai pemimpin tidak bertanggung jawab membiarkan
kami kelaparan seperti ini” sambil terus menerus menuduh Umar tidak
bertanggung jawab tanpa menyadari bahwa yang berdiri di hadapannya
adalah Umar sendiri.

Tanpa berbicara sepatah kata, airmata Umar mengalir membasahi pipi dan
janggut beliau mendengarkan pengaduan ibu itu. Beliau kemudian
meninggalkan ibu itu dan kembali ke Madinah malam itu juga langsung
menuju baitul mal (gudang penyimpangan bahan-bahan bantuan).
Diambilnya sekarung gandum dan beberapa potong lauk (syahm) dan
dipikulnya sendiri kembali menuju tempat ibu tadi. Di tengah jalan
beliau berpapasan dengan seorang sahabat. Sahabat terkejut melihat
Umar memikul sekarung gandum. Beliau menawarkan diri untuk membawakan
karung tersebut. Tawaran itu ditolak olehnya seraya berkata: “Akankah
engkau mengambil alih tanggung jawabku di hadapan Allah kelak?”.

Sungguh contoh solidaritas sosial yang agung dari sahabat dan pemimpin
agung. Bahwa accountability (pertanggung jawaban) bukan sekedar
duniawi sifatnya, tapi yang lebih penting adalah pertanggung jawaban
di Akhirat kelak.

Bukankah masanya, di saat jutaan manusia menjerit dalam genggaman
kerisauan ekonomi, tiada pekerjaan, harga kebutuhan pokok yang
melonjak, manusia seharusnya tersadarkan akan urgensi haji sosial. Di
saat saudara-saudara sebangsa dan seiman hidup dan menghidupi
keluarganya di bawah kolon-kolon jembatan itu, di saat-saat para ayah
bercucuran keringat tanpa pernah mencukupi kebutuhan keluarganya, di
saat ribuan anak-anak potensi bangsa harus kehilangan kesempatan
belajar karena biaya pendidikan yang tinggi, kita tersadarkan oleh
hajinya sang tukang sepatu. Haji yang terbangun di atas fondasi
kesadaran sosial yang tinggi dan bukannya haji yang semakin membawa
kepada prilaku egoistik atas nama Tuhan dan ridhaNya.

Wallahu a’lam!

March 18, 2008

Pengusaha & Malaikat

Filed under: Qolbu

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke,
sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Disaat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia Roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya. Malaikat memulai pembicaraan, “Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!
“Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . ” kata si pengusaha ini dengan yakinnya. Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.
Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali merngunjunginya; dengan antusiasnya
si pengusaha bertanya, “apakah besok pagi aku sudah pulih? pastilah
banyak>yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit”.
Dengan lembut si Malaikat berkata, “Anakku, aku sudah berkeliling
Mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktu mu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu”.
Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan
Layer besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa
>dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka”.
Kata Malaikat, “Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu
Memberikanmu kesempatan kedua? itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu”
Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh,
Tuhan, aku tau kalau selama hidupnya suamiku bukanlah
suami atau ayah yang baik! Aku tau dia sudah mengkhianati
pernikahan kami, aku tau dia tidak jujur dalam bisnisnya,
dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk
popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar
di hadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah
Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang
ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.”
dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya
semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang
istirahat”.

Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi
Pengusaha ini . . .
timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik
dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru
menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.
Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi,
melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,
penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat ! tidak
mungkin
dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !
Dengan setengah bergumam dia bertanya, “apakah diantara karyawanku,
kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa
buatku?”
Jawab si Malaikat, “Ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak
tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini,
itu semua karena selama ini kamu arogant, egois dan bukanlah atasan
yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah”.

Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam
yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak
dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur
di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur
dikursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata,
“Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! kau tidak jadi
meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00″.

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya
Siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan.

Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan
yang lalu, walau aku tau tujuanmu saat itu hanya untuk mencari
popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.
>
Doa sangat besar kuasanya, tak jarang kita malas, tidak punya waktu,
tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama / keluarga, kita pikir itu
Hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia, mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan
Baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi

Sumber : lupa bos !!!

Topengdigital

January 24, 2008

Tuhan Sembilan Senti

Filed under: Qolbu

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail
(diambil dari mailist halloPIM, kiriman Erliandy)

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira
nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara
merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari
pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika
melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di
kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat
merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu
dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen
sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi orang
perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya,
kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang
sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu
lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa
di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus
dalam kertas berwarni dan berwarna,diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan
api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

January 8, 2008

MELURUSKAN NIAT

Filed under: Qolbu

dicopy dari milis dzikir

Alkisah seorang Guru yang mempunyai beberapa Murid dengan bermacam latar belakang, ada yang mantan Preman, seorang Akademisi, seorang Politisi, seorang Pengusaha, & seorang Santri . Kelima orang tersebut mempunyai tujuan yang sama, yakni ingin mencari Tuhan, mereka mempunyai keinginan yang sama meskipun latar belakangnya sama sekali berbeda. Tak terkecuali si Santri yang sebenarnya sudah tamat baca Al Quran berkali kali tetapi masih merasakan kekeringan jiwanya.

Suatu hari kelima murid tersebut mendatangi sang guru secara bersamaan, mereka menginginkan suatu amalan ataupun cara untuk mengenal Allah. Singkat cerita sang guru memberikan amalan kepada kelima murid tersebut dengan amalan yang berbeda-beda, ada yang Qulhu, Ayat Kursi, Al Fateha dsb, yang masing masing harus dilakukan setelah sholat lima waktu dan sholat tengah malam selama 40 hari.

Empat puluh hari pun berlalu, kelima murid kembali mendatangi sang guru untuk memberi kabar perkembangan spiritual mereka.

Sang Guru bertanya : “Wahai murid muridku, bisakah kalian menceritakan pengalaman yang kalian dapatkan setelah empat puluh hari ?”
Murid 1, dengan bangganya dia berkata : “Saya telah menemukan Tuhan, sekarang saya bisa menyembuhkan orang sakit, saya bisa mengobati orang hanya dengan segelas air”.
Murid 2, juga tak mau kalah berkata : “Saya telah mengenal Tuhan, saat ini saya bisa melihat sesuatu yang akan terjadi (tahu sebelum kejadian)”.
Murid 3, dengan tangkasnya juga menceritakan : “Saat berdzikir, tubuh saya bisa melayang layang, saya bisa pergi ke mana mana untuk melihat suatu tempat tanpa berpindah dari tempat duduk”.
Murid 4 : “Usaha saya mengalami kemajuan pesat, order berdatangan, sampai harus menolak nolak order, rezeki saya berlimpah limpah”.
Murid 5 : “Saya merasakan kebahagiaan yang sangat, kenikmatan, keheningan, adem ayem, tentram, mantheng….seakan- akan nggak mau ngapa-ngapain lagi…”
Mendengar penuturan murid muridnya sang Guru bertanya : “Apakah kalian sudah merasa mengenal Tuhan?”
Murid muridnya serentak menjawab : “…… Ya…!! Kami telah mengenalNya…” .
Dengan sedikit menggoda Sang Guru pun kembali bertanya : “Jika suatu saat apa yang kalian semua alami itu tidak terjadi atau sebaliknya bagaimana ? Apakah kalian masih tetap merasa mengenal Tuhan ?”
Murid : “…!@#$$%%^^&& &***()!!! ???????^% $^^^” ( mereka semua tidak bisa menjawab pertanyaan sang guru yang tidak disangka sangka itu, diam-diam ada rasa ketakutan kalau nggak bisa menyembuhkan orang lagi, nggak bisa melayang-layang lagi, rezekinya berkurang, dsb )
Dengan bijaksana sang guru memberi wejangan : “Tuhan itu seperti sangkaan hambanya, jika kalian merasa mengenal Tuhan sebatas yang kalian alami/rasakan saja maka Tuhan kalian hanya sebatas itu. Tetapi jika kalian memperluas sangkaan, maka akan lebih luas/besar lagi yang kalian dapatkan”.
Sambil terbengong bengong sang murid memberanikan diri bertanya : “Maksud Guru bagaimana ?”.
Sang Guru berkata : “Mulai saat ini, tinggalkan/letakkan pengalaman semua itu……” (murid muridnya semakin bingung, mereka berkata dalam hati, guru ini bagaimana sih, kita yang sudah mulai menemukan Tuhan & merasa enak kok malah disuruh berhenti / meletakkan semua itu.). “Kalian kembalilah ke sini bulan depan, gantilah dzikir yang telah kuberikan dahulu dengan menyebut Allah…Allah… Allah…amalkan apa yang telah kuberikan tetapi dengan satu syarat, sekali lagi tinggalkan pengalaman pengalaman kalian 40 hari kemarin”.

Satu bulan pun telah berlalu, sang Guru kembali berkumpul dengan murid muridnya, seperti biasa sang guru memulai pembicaraan dengan menanyakan : Apa yang kalian dapatkan setelah satu bulan ?
Kali ini jawaban mereka tidak seheroik jawaban bulan kemarin, Sang Murid menjawab dengan rasa Tawadu’
Murid 1 menjawab : SUBHANALLAH….
Murid 2 menjawab : ALHAMDULILLAH
Murid 3 menjawab : ALLAHU AKBAR
Murid 4 menjawab : LAA ILA HA ILLALLAH
Murid 5 menjawab : LAA HAULA WALLA QUWATTA

HANYA SESINGKAT ITUKAH JAWABAN MEREKA ….????????
Sang Guru pun tersenyum mendengar jawaban murid muridnya karena dia telah berhasil menemani/menghantar kan murid-muridnya untuk menemui Tuhannya yang tidak dapat diwakili dengan Kata Kata, Kondisi ataupun Rasa. Karena mereka telah menemukan sumber kehidupan yang sama, tanpa mereka mengutarakan satu sama lain tetapi mereka sudah saling memahami. Mereka telah menjadi saksi.

Wassalam,
I-ONE

December 18, 2007

Berihram di Dalam Negeri

Filed under: Qolbu

Dicopy paste dari milis dzikir

Sewaktu kecil saat sholat berjamaah banyak kejadian lucu. Melihat teman sebelah garuk-garuk karena nggak khusyu, dengan niatan lugu teman satunya mengingatkan : hei, kalau banyak gerak, nanti sholatmu batal. Dengan lugunya pula teman di belakangnya nyeletuk : Sholat kok ngomong ! batal Lho. Lha gadah ! kamu juga ngomong ! sama-sama batal dong !. Di sekelilingnya juga mulai cekikikan mendengar kekonyolan itu. Yang agak senior dengan setengah sinis nggerundhel : Arek-arek iki rek…rame ae. Nanti mulutnya tak obras baru tau rasa. Sholat kok buat guyonan. Mungkin sesepuhnya masjid sambil meneruskan rakaat juga nimbrung dalam hati : Ah…Seandainya mereka tahu manfaat dan nikmatnya sholat…

Tak terasa, ternyata semua terlibat kebatalan-kebatalan yang tak disadari. Semua merasa benar. Semua merasa berkewajiban mengingatkan. Semua berhak marah bila agama jadi sesuatu yang tidak serius. Semua ingin berbagi kebahagiaan spiritual. Namun mata hatinya masih melirik ke kanan kiri. Belum memandang lurus ke depan. Allah Sang Penggerak.

Semua berdebat kendaraan cara. Semua berdebat jalan kebenaran. Semua berdebat pengalaman. Terhenti di hiruk pikuk sampai tak terasa lupa tujuan.
Batal tapi benar. Batal tapi indah. Batal tapi lega. Batal tapi lapang. Tahu tujuan tapi masih berat di ongkos.

Sampai kita dewasa pun ternyata kebatalan-kebatalan itu selalu terjadi dengan bentuk yang lebih halus dan luas. Tentu sesuai dengan rumitnya parameter file otak kita tentang tafsir-tafsir. Mungkin kalau urusan mengerjakan tertib sholat yang lima waktu itu, bolehlah kita bangga merasa lebih khusyu ketimbang sahabat-sahabat kita yang kecil. Tapi bagaimana dengan mendirikan sholat ? Perintah aqomu sholat, mendirikan sholat, seperti orang mendirikan rumah. Setelah mendirikan, sudah seharusnya seseorang harus bermukim di dalamnya. Menjadi mukimin sholat. Bermaqom di sholat. Kalau mengerjakan itu urusan lima waktu, sedangkan mendirikan dan bermukim harus 24 jam online. Tidak boleh melakukan gerakan-gerakan yang membatalkan. Khusyu 24 jam tanpa melirik sekalipun.

Kekhusyukan terus-menerus mendirikan sholat tanpa lirak-lirik kanan ini sudah seharusnya menjadi kewajiban moral. Tapi siapa sih yang betah tidak lirak-lirik senggal-senggol kanan kiri ? Ah…kalau berjilbabnya masih gitu sih belum kafah. Ah…kalau metode penafsirannya begituan, apa bisa dipertanggungjawabk an. Ah…ngaji di pesantren belum tuntas kok kesusu ngomong. Jadi nambahin kacau deh. Ah…kalau metode sholatnya Abu Sangkan sih sebenarnya sudah jadi lauk pauk keseharian. Sayang kita tinggal di pinggiran yang tak tercover peradaban media modern. Itu semua sebagian contoh kecil lirikan dan gerakan diluar rakaat mata pikiran dan mata hati kita dalam bermukim sholat.

Kalau fikih syariat tidak sahnya rukun sholat karena najisnya pakaian, maka fikih hakekat batalnya gerakan mukim sholat ini penyebab utamanya adalah masalah model pakaian. Setiap hari kita berganti model baju tak pernah puas. Kemarin kita pakai baju intelektual. Setelah bosan, sekarang ganti kostum politikus. Besok mungkin sudah merancang desain model pengusaha. Kemarin ikut ini, sekarang ikut itu. Lusanya karena nggak puas terhadap semuanya lalu pindah jadi spiritualis. Ketika nggak laku, balik lagi jadi pedagang, menjual spiritualitas.

Kita semua terombang-ambing oleh perputaran trend baju gelar, profesi dan status sosial. Sehingga kita begitu peka mengamati baju-baju orang sekitar. Oh…kalau itu pakaianku lima tahun yang lalu waktu ABG. Eihh…masih ada juga model begini. Wah…ini bisa jadi trend futuristik. Sip…ini hak patenku.Ini nilai jualnya tinggi. Waduh gimana bajuku ini kok mulai ketinggalan ya…
Seandainya kita paham bahwa makna dasar baju hanyalah sebatas menutup nilai aurat ruhani yang sangat personal, maka selesailah sudah urusan yang tidak perlu itu. Kita tak lagi bingung jahitan model tafsir siapa, motif model gerakan halaqah siapa, benang spiritual siapa, warna pemahaman siapa dan kancing fatwa siapa. Kita juga tak perlu menyelidik menyingkap bagaimana sebenarnya bentuk body ruhani seseorang di balik baju itu.

Kepentingan kita seharusnya cukup mensibukkan diri menutupi pencapaian-pencapai an spiritual dengan baju putih bersih tanpa rajutan, tanpa warna, tanpa motif dan tanpa model. Netral seperti netralnya baju ihram. Inilah kostum sejati seseorang yang telah mencapai puncak ibadah. Baik ibadah sholat maupun haji ataupun ketiga rukun Islam lainnya.

Bila saja semua pemuka agama Islam telah berbaju ihram dalam keseharian, selesailah sudah pertikaian itu. Baik berihram secara syariat maupun hakikat.

Andai saya punya dana sangat buwessarrr, saya akan ber SMS kepada semua Kyai, Ustadz, Ajengan, Mursyid, Murobbi dan sejenisnya yang berbunyi :

Minggu depan di mohon kumpul di Istiqlal. Wajib memakai baju ihram. diharamkan membawa bendera dan label apapun. Ongkos ditanggung panitia. Mohon konfirmasi balik untuk masalah akomodasi. Wassalam, dari pecinta warosatul anbiya.

Ah…kita akan melihat Istiqlal bagaikan miniatur Makkah. Kita para makmum dan umat juga tidak akan larut dalam penilaian yang tak perlu. Kita tidak bisa lagi menilai : Tuh yang sorbannya segedhe wakul itu golongan si A. Yang celananya hampir sedengkul itu pasukan B. Kalau yang berbaju koko itu jamaah C. Kayaknya yang kopyah hitam itu favoritku. Wah ini nih gamisnya mantap. Cara pandang kita akan dibutakan dengan keindahan. Kemanapun memandang yang ada hanyalah putih bersinar bagaikan kesucian hati mereka. Tak ada lagi klaim merasa bersih dari yang lainnya.

Tinggal selangkah. Jika para beliau telah berjajar rapi dengan pakaian ihram, saya ingin memberanikan diri berdiri mengajukan sebuah uneg-uneg :

“Ya para pewaris nabi…hari ini aku sangat bahagia. Karena tak lagi kulihat sekat-sekat dari golongan Islam mana engkau berasal. Engkau semua begitu bersih sebersih kain ihram. Terlihat jelas olehku perbedaan antara bersih dan kotor. Hitam dan putih. Dan engkaulah yang putih bersih itu. Maka sudah seharusnya engkau semua layak menjadi simbol moral kami. Pimpinlah kami turun ke jalan secara besar-besaran. Meneriakkan segala ketidakberesan negeri ini. Teriakkan anti korupsi secara lantang. Sebab inilah biang keroknya.

Adanya tayangan maksiat itu karena aturan yang sebenarnya sudah berpihak pada nilai Islam dikorupsi, dilanggar. Bertebarannya fakir miskin dan anak yatim juga karena korupsi dana kesejahteraan. Kebodohan yang berakibat mudah menuduh dan menghakimi itu juga karena korupsi anggaran pendidikan. Ketidak khusyukan sholat seorang bapak yang bingung cari nafkah itu juga karena korupsi regulasi yang tak berpihak samasekali kepada pedagang kecil. Semua berasal dari nilai luhur dan kesantunan yang telah dikorupsi demi sebuah eksistensi kain seluas kurang lebih satu kali dua meter alias bendera - bendera golongan.

Ayolah kita bikin gerakan moral besar-besaran tanpa kepentingan apapun. Setulus kain ihram. Tanpa motif, tanpa warna dan jahitan. Ayo kita hancurkan berhala-berhala bendera golongan itu ! Saya yakin bila Anda semua turun kejalan dengan pakaian ihram, pasti semua orang di pinggir jalan akan ikut. Sebab orang-orang kecil atau makmum biasanya lebih jeli membaca sebuah ketulusan. Pasti ikut ! Pasti ikut !. Lautan manusia ruhani akan terjadi. Mosok kita kalah sama gerakan para biksu suci di Myanmar.

Ayo kita berfastabiqul khairat dengan mereka….Buktikan bahwa kita lebih baik. Jadikan seperti gerakan Hijrah Rasulullah yang sedang memimpin kaum terpinggirkan. Badan dan jiwa kami semua ingin hidup lapang seperti tenangnya orang yang sudah bermukim di sholat, seperti jembar dodo nya orang yang sudah mukim wukuf di padang Arafah. Diamnya nafsu karena telah bermukim di padang penyaksian”.

Begitu menggebunya angan-angan saya untuk berdiri tegak menyampaikan aspirasi kepada para bapaknya umat. Tetapi tiba-tiba…

Glodhak …! Saya terjatuh dari tempat tidur. Rupanya mimpi lagi. Namun diam-diam saya tetap kepikiran apakah mimpi semacam ini mungkin terwujud ? Sebab kenyataannya pemimpin kita masih lebih gemar senggol-senggolan seperti sholatnya adik-adik kita. Sebab senggol-sengolan itu asyik.

Maka putarlah musik dangdut sekeras-keras agar senggolan itu makin nikmat, memikat dan mendatangkan banyak penonton. Dengarlah rancak suara kendang tak dan dut. Kepentingan otak dan perut gendut. Tak dut…tak dut…tak dut…

Akupun ngelindur keloyongan bingung lagi mencari imam.

Wassalam, tetap makmum garda belakang.

Dody Ide

December 5, 2007

Aliran dan Samudera

Filed under: Qolbu

dicopy dari milis dzikir
Aliran dan Samudera
( Kisah Air dan Botol )

Begitu jernihnya air itu turun dari langit. Diserap oleh gunung-gunung
beserta pepohonannnya. Mengalir bercabang-cabang menjadi sungai - sungai. Selalu
turun ke bawah, ke bawah dan ke bawah. Ia mencari tempat terendah. Persatuan
kembali. Samudera lepas. Sesampai di sana air itu ingin naik kembali. Menguap
melebur. Menjadi sesuatu yang jernih kembali.

Layaknya air, sebuah ajaran moral turun dari langit begitu jernihnya. Ajaran
ini merembet meliuk-liuk bergelombang melewati celah-celah terendah. Memecah
diri menjadi berbagai aliran sungai ajaran. Di tengah perjalanan, air sungai
banyak yang memanfaatkan. Ada yang ingin sekedar meminumnya. Ada yang
memanfaatkan untuk mengairi sawah. Ada yang mencuci baju sambil menyisakan
deterjen perusak ekosistem. Ada yang beol geyal-geyol sambil merokok santai
tanpa perlu susah payah menyiram. Ada pula yang tak bertanggungjawab secara
sistematis menguras besar-besaran seluruh kandungannya demi hawa nafsu yang tak
berujung.

Sebagian ulah manusia ini membuat air menjadi keruh. Air yang dulunya bersih
jadi kotor. Ajaran suci air telah tercemari dengan berbagai kepentingan. Air
yang seharusnya turun ke samudera, dibelokkan kesana-kemari, ditampung berbagai
wadah dan dimasukkan botol beraneka bentuk. Disesatkan dari tujuan semula ke
samudera. Air itu sesaat bergejolak karena tersesat tak tahu arah kembali. Namun
seiring waktu, air itu mulai diam, mapan mengikuti bentuk wadagnya. Mulai
terjadi persesuaian. Seakan bentuk air adalah wadah itu.
Kemudian orang -orang secara aklamasi maupun tersistem oleh sebuah kekuatan
yang rapi, memproklamirkan bahwa inilah satu-satunya bentuk air yang sah. Air
itu dilabeli, dicap standard tinggi semacam ISO atau ROHS dan diproduksi masal
serta didistribusikan secara luar biasa. Kita pun secara turun temurun
menganggap bahwa itulah satu-satunya bentuk air yang baik. Kita kehilangan daya
keberanian mengungkapkan bahwa air tidak hanya itu. Air di gunung, di bawah
tanah, dan di telaga bening dalam hutan tak pernah kita anggap lagi.

Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kesejukan dan pelepas dahaga
bertranformasi menjadi bentuk botol pemahaman yang kaku dan mudah pecah. Tak ada
yang berani memanfaatkan selain hanya sebagai simbol keberadaan. Lihatlah ! Kami
ada ! Awas jangan ganggu kami ! Semua orang bingung menjaga dengan hati-hati dan
ekstra ketat jangan sampai botol itu rusak. Walau tak ada perang selalu saja
siaga satu.

Air itu sesungguhnya telah kehilangan perhentian terakhir. Samudera nan
luas….

*

Air adalah kodrat ruh manusia sedangkan botol-botol itu adalah diri kita
beserta lembaga-lembaga atau halaqah yang kita yakini sebagai pembawa kejernihan
ajaran. Namun sayangnya kita ini sering terjebak oleh institusi botol daripada
melihat kemanakah jalannya air. Muncrat show of force ke atas seperti
pertunjukan air mancur atau sampanye, ataukah selalu mengikuti kodrat mengalir
ke bawah menuju samudera lepas. Kita tak pernah peduli. Hati kita tetap lebih
condong dengan botol daripada air.

Kita terbiasa menuhankan botol-botol lembaga. Baik lembaga yang bernama
kharisma individu, swasta atau negara. Sehingga kecondongan hati kita
terhadapnya sepadan persis sama beratnya dengan kecondongan terhadap Tuhan. Bisa
jadi Tuhan itu malah nomor dua bahkan kancrit buncit karena kita tak begitu
percaya akan kedekatanNya. Walaupun kitab suci secara bloko sutho sudah ngomong
apa adanya akan hal itu. Sebab ada yang bilang Tuhan itu nggak ada. Kalaupun ada
ya masih sebatas retorika katanya ataupun hanya bukti keajaiban alam yang
menunjukkan adanya peran Tuhan di balik semua itu . Bukan bukti wujud atau dzat.

“Hidup modern harus logis dan serba techno bung ! Jangan ngomong Tuhan yang
keberadaannya sampai ini tak bisa dideteksi dengan tehnologi tercanggih”, begitu
semboyan kita saat ini. Dan tiba-tiba kita lebih sami’na wa ato’na terhadap
apapun yang berbau tehhno.

Pada tahap akut pengkaburan pemahaman antara air dan botol, pikiran sudah
terbiasa dengan: tak ada air nggak apa-apa asal ada botol. Tak ada rotan akar
pun jadi. Asal ada kata Islam atau Islami, marem hati ini. Entah ada tidaknya
nilai maslahat arus bawah umat ataupun kandungan ruhaninya, itu urusan
belakangan. “Gak ngurus ! Yang penting Islam !”, begitu terngiang lekatnya
kalimat sahabat saya waktu kecil itu.

Seperti beberapa waktu lalu saya tertawa terpingkal-pingkal melihat teman saya
yang misuh-misuh. Kurang ajar ! Jan*%# ! Dod, kemarin karena macet karnaval,
aku akhirnya numpang mobil box. Eh..dia ngangkut mie instan bermerk “Islamie”.
Setelah saya tanya sopirnya: “Apakah ini milik pengusaha muslim ?”. “Bukan
mas… ya siapa lagi mas yang kerjaannya pinter dagang”, katanya. Pak sopir tak
peduli dengan urusan itu. Yang penting bagi pemahamannya, dia harus bekerja
halal mengeluarkan keringat mengentaskan kemiskinan keluarganya.

“Kapokmu kapan !”, saya cuma bisa berkomentar sependek itu.

Atau kalau kita pergi ke Singapura, coba masuk ke salah satu swalayan. Anda
akan terkaget-kaget ada salah satu makanan kaleng dari Australia bertuliskan
“Halal Pork” dengan gambar hidungnya miss Piggy yang seksi itu. Itu semua hanya
sebagian contoh kecil yang masih kasar permainannya.
Kesalahpahaman pemaknaan, keremangan memandang masalah, dan ketersesatan itu
ternyata begitu menyelimuti kita semua. Dari rangkaian keilmuan dan pengalaman
yang mengerucut pada kata sesat atau tidak, ternyata hanya karena urusan bentuk
botol. Bukan kejelian memandang aliran air.

Orang-orang yang bijaksana seharusnya mampu membebaskan air-air dalam botol,
mewakafkan tanahnya untuk dilalui arus besar air yang tak punya jalan mengalir
menuju samudera. Bukannya malah memecah botol sambil mengganti dengan botol baru
yang sesuai dengan selera penafsirannya.

**

Kita ini memang pecinta aliran dan bentuk daripada belajar mencintai samudera
tak terbatas karena aliran mudah dikendalikan. Sedangkan samudera tidak. Kita
senang menyumbat aliran-aliran kecil. Menghadang, menohok dan gemagah menginjak
yang kecil agar eksistensi sebuah imperium aliran besar tetap terjaga. Tak ada
kelegawaan untuk bertemu, berdialog, membimbing dan kemudian berfastabiqul
khairat : ayo siapa yang mampu menempuh jalan terendah agar air cepat sampai ke
samudera…

Sekali aliran tetap aliran. Sama sekali bukan samudera. Tak peduli arus
mainstream atau minor.

Mungkin kegamangan akan perjalanan menuju samudera hanya karena kita tak
terbiasa di tempat yang luas. Memang sih bagi yang nggak biasa, hidup di
samudera itu nggak enak. Nggak jelas lor kidul. Semua membaur menjadi satu. Tak
bisa membedakan asal usul aliran. Tak ada suku dan keturunan.Tak ada
pengkaplingan. Tak ada lagi jahitan. tak ada motif. Tak ada warna. Persisi
seperti kain ihram. Agar orang mampu khusyu wukuf sejenak di padang Arafah.

Berdiam hening di padang penyaksian yang sangat luas.

Ternyata kita yang masih suka aliran-aliran dan lembaga, masihlah sebentuk air
yang belum tuntas perjalanannya menuju samudera. Masih ada kemungkinan air ini
tak sampai ke samudera alias tersesat. Bila saja kita berani meneruskan
perjalanan, biasanya pada muara batas antara aliran sungai dan samudera, antara
air tawar dengan air asin, akan terlihat papan pengumuman yang besar sekali :

Selamat datang
Anda memasuki kawasan samudera
Tunggal ilmu ojo adu, tunggal guru ojo ngganggu, tunggal agomo ojo padu. Belum
kenal Tuhan jangan belagu..
Sama-sama cari makan, sesama sesat dilarang saling menyesatkan….

***
Jikalau kalau

Jikalau ada hadits yang menyatakan umat Islam terpecah menjadi tujuh puluh
tiga aliran golongan dan hanya satu yang benar, mari menegaskan kepada diri
sendiri bahwa yang satu golongan benar itu bukan diri kita. Tak lain agar kita
lebih serius dan khusyu ber Al Fatihah. Meminta petunjuk tentang jalan yang
lurus dari sekian pilihan yang ada. Atau mari memaknai hadits itu dengan cara
pandang yang progresif namun sederhana. Misalnya, Islam itu kita ibaratkan kue
pizza yang dipotong terpecah jadi tujuhpuluh tiga bagian, dan yang benar hanya
satu, maka makan saja utuh-utuh semuanya. Agar Islam kita utuh dan benar. Dekati
semuanya. Jadikan saudara seperti janji kita diakhir shalat. Masalah kapan
memakannya, ya tinggal disesuaikan dengan kontekstualnya kebutuhan hidup.

Kalau ada potongan bagian yang terlalu pedas karena banyak paprika nya, jangan
tergesa membuang. Taruh dulu, nanti kalau badan lagi lemes kan bisa buat tombo
ngantuk. Artinya, kalau kita nggak suka teman-teman yang berhaluan keras yang
gemar main hakim sendiri dengan alasan menegakkan hukum Islam, dekati saja.
Jangan dibenci. Ajak berteman. Ketika korupsi sudah demikian parah, dan aparat
begitu impotentnya terhadap koruptor, kita tinggal bilang :

“Ustadz, Bib, bagaimana kalau kita turun ke jalan, sweeping rumah koruptor.
Kita ajak pengacara muslim beserta akuntannya, lalu sidak ditempat memakai
metode pembuktian terbalik tentang darimana harta ini diperoleh. Kalau tidak
bisa menjawab dengan benar, ya silahkan sampeyan dan para anak buah melampiaskan
hasrat Rambo seperti biasanya. Silahkan terapkan hukum Islam tentang pencurian.
Langsung di tempat. Di jamin korupsi cepat abis. Negara cepat adil makmur
merata. Masak sih sama pencuri yang rata-rata berperut gendut dan tidak punya
ilmu beladiri nggak berani. Padahal sampeyan dan anak buah begitu heroiknya
berhadapan dengan preman kafe-kafe yang berbadan kekar dan jago berkelahi”.

Jikalau ada potongan bagian yang nggak ada dagingnya alias sayur thok, jangan
grusa-grusu bilang nggak mau. Taruh dulu. Nanti ketika kolesterol dan tekanan
darah meninggi, kita pasti butuh bagian itu. Artinya bila ada sesama muslim yang
kelihatan melempem adem ayem ngglendhem yang kerjaannya tazkiyatun nafs, jangan
dianggap pecundang. Ketika segala ikhtiar dan heroiknya perjuangan atas nama
Islam mengalami puncak kebuntuan, pertikaian, kelelahan dan kelalaian, para
mereka akan tampil menjadi pahlawan yang memberi peneduh sekaligus penyemangat
hidup. Seperti segarnya sayur mayur hijau di atas pizza.

Kalau kita tidak bisa memakan semua, cara tergampang adalah ; ambil titik
tengahnya. Kosong. Nol. Ambil saja sikap seperti anak muda yang kasmaran tapi
nggak berani pacaran, “Kayaknya kita lebih baik berteman aja deh daripada saling
menyakiti ”

Tidak memakan apa-apa namun berada di tengah dilingkupi semua potongan. Puasa.
Enaknya metode ini, tak ada seorangpun yang mampu menggugatnya. Karena puasa
satu-satunya ibadah rahasia antara mahluk dengan Khaliknya. Dalam rumus
matematika biner, puasa adalah bilangan Nol, sedangkan utuhnya kue pizza adalah
bilangan satu. Artinya, kalau kita nggak mampu jadi angka satu, langsung aja
jadi angka Nol. Jangan setengah - setengah alias banci. Yang namanya
setengah-setengah itu nggak profesional. Angka setengah dalam kinerja tehnologi
biner tak diakui, cacat. Tak akan mampu menjalankan program apapun

Bila angka nol dan satu telah berpadu serasi bergantian saling meng-”ada”,
tentu akan menjadi program yang sangat dahsyat. Menjadi aplikasi nyata.

****
Jikalau kita pengen khusyuk menghamba pada Allah, sudahi saja menohok sesama,
ndhak perlu tunjuk hidung menyesatkan orang atau golongan. Baik menyesatkan
secara terang-terangan ataupun malu-malu dengan kamuflase logis ayatis dan
spiritual ghaib klenis.

Kalau kita mengaku tidak sesat, sudah seharusnya berani memproklamirkan diri:
“Aku termasuk orang yang dijamin surga layaknya Muhammad SAW. Aku tak perlu
membaca Al Fatihah sebanyak tujuh belas kali sehari. Sebab aku tidak sesat.
Sebab Al fatihah itu isinya hanya pengakuan orang yang selalu minta petunjuk
atas ketersesatannya. Aku tak perlu memohon Ihdinassiratal mustaqim karena aku
yakin jalanku sudah lurus”.

Minimal woro-woro ini diumumkan di milis ini secara gentleman. Atau kalau
ingin lebih berskala besar, sekalian saja mengiklankan diri di koran atau
televisi. Dijamin cepat terkenal, banyak pasukan pengikut, dan tentu saja
peluang pasar yang menggiurkan daripada sekedar lima ribu orang yang berada
dalam milis ini. Ayo siapa berani mulai ?

Kalau saya pribadi sih cari selamatnya saja. Pakai doanya Abunawas :
“Ya Allah…hamba ini nggak pantas masuk surgamu. Tapi…kok kayaknya juga nggak
kuat panasnya neraka….”

Minimal kalau saya tersesat, mbok diingatkan bagaimana saya harus
menggoyang-goyangkan badan, mencubiti kulit dan membelalakkan mata agar tetap
tersadar bahwa saya ini tersesat di bumi Allah, tersesat di alam-alam ghaib
miliknya Allah, tersesat di suasana-suasana ciptaan Allah, tersesat di keramaian
logika berfikir otak made in Allah, tersesat di ilusi-ilusi rasa bikinan Allah.
Tersesat di mana sajalah. Asalkan sadar, bahwa dalam ketersesatan itu semua
milik Allah…alias tetap ingat Allah.

Hambamu yang tersesat

Dody Ide

December 2, 2007

Si Abid Yang Merasa Tak Puas dengan Tuhan yang Abstrak

Filed under: Qolbu

dicopy dari milis dzikir

Assalamu’alaikum warochmatullohi wabarokatuhu’

Si Abid yg merasa tdk puas dengan Tuhan yg abstrak, gaib yg tak terlihat. Ia ingin melihatnya. Melihat-Nya dalam dunia yg nyata ini sebagai kenyataan yang tunggal. Maka ia mendatangi para guru, ulama, pemikir. Ia mendatangi setiap orang yg berbicara ttg Tuhan. Pertanyaannya selalu sama, “Apakah Anda sudah melihat Tuhan”. Banyak jawaban yg diperolehnya namun tak satupun yang membuatnya puas. Kemudian pada suatu sore ia mendatangi si Pak Guru, beliau tinggal di DESA yang terpencil. Si Abid mendatangi beliau dan bertanya “Apakah guru sudah melihat Tuhan”. Pak Guru menjawab “Mari kita duduk dulu Nak minum air kemudian kita akan membahas pertanyaanmu” . Si Abid menjawab “Cukup guru, terima kasih”. Sambil pergi keluar. Pak Guru bingung, ia tidak memahami maksud Abid. Bagi Abid jawaban sang guru cukup jelas, Pak Guru masih terjebak dlm permainan kata dan pikiran. Ia menghormati beliau tapi ia menginginkan jawaban yg tegas ya atau tidak. Pernah melihat Tuhan atau tidak.
Kemudian pada suatu sore seorang teman mengajak dia untuk ketemu dgn Pak Tua, seorang petani di desa yang terpencil dianggap eksentrik, bahkan sedikit “gila alias tdk waras”.

Pak Tua bukanlah seorang alim atau ulama ahli. Kaum Alim, ulama ada dimana-mana, mereka adalah yg menutup pintu itihijad bagimu, mereka tidak menginginkan kamu berpikir dan menemukan arti sendiri kitab suci. Mereka yg hendak memonopoli urusan pemahaman. Sehingga umat dapat dibohongi,ditipu. Dan akan memaksa untuk menerima pemahaman yang menguntungkan mereka. Kaum Alim adalah para cendikiawan yang arogan, para dosen dan rektor gila kekuasaan. Para pendidik dan pengajar yg mementingkan kantong mereka aja. Kaum Alim ulama ini yg selalu menolak para pencari Hikmah. Mereka adalah pemuja aksara. Devosi mereka terhadap kata2 belaka. Mereka memahami kitab suci secara harfiah. Mereka memahami kata sbg kata tapi tdk memahami esensinya. Mereka masih berdebat ttg apa yg tersurat. Mereka masih sibuk dlm perdebatan, maka janganlah mengharapkan pemahaman mereka atas apa yg tersirat.

Pak Tuapun menolak kaum alim, para ulama para ahli kitab. Pak Tua pernah diprotes karena selama berhari-hari dia tidak berdoa. Pak Tua menjawab “Doa harus keluar dari hati, kadang2 hatiku tdk ingin berdoa. Aku hanya ingin menatap wajah Tuhan. Tuhan pun tdk keberatan. Tuhan dapat memahami keadaanku. Tuhan tidak pernah mengeluh. Waktu aku kecil dan tidak ingin melakukan sesuatu, akan kukatakan pada ibuku, dan ia pun memahaminya. Demikian juga dengan Tuhan. Dia pun memahamiku. Apa kesulitanku. ”
Bagi Pak Tua doa itu sifatnya pribadi. Hubungan antara panembah dan yang disembahnya. Cara dan waktu berdoa pun urusan pribadi si panembah. Tak seorang pun berhak mencampurinya. Ya Pak Tua memang udah terlepas dari dogma, akidah doktrin yg masih berlaku bagi kita.

Sore itu Si Abid berhadapan dgn Pak Tua. Dia pun mengajukan pertanyaan yg sama “Apakah Pak Tua sudah melihat Tuhan”. Pak Tua menjawab, “Ya sudah pernah, bahkan setiap saat aku melihat wajah Nya, aku melihat wajahnya dengan jelas sekali sama seperti aku melihat wajahmu saat ini “.

Si Abid jiwanya tergunjang mendengar jawaban tsb. Ia tidak mengharapkan jawaban setegas itu. Ia sudah tidak mengharap ada orang yang dapat menjawab “ya” pertanyaannya. Dalam hati kecilnya ia berpikir bukankah jawaban ini yang kutunggu selama ini. Namun ketika jawaban itu diperolehnya dia pun terkejut. Setelah itu dia pun menundukkan kepalanya. Ia sadar bahwa yang dihadapinya bukanlah Pak Tua biasa bukanlah para ahli kitab. Ia sedang menghadapi manusia Allah. Seorang Tua yang sudah melihat tidak hanya mendengar suara-Nya. Pak Tua adalah seorang saksi dan hanya seorang saksi yg bisa menjawab seperti itu. Ya pak Tua telah melihat wajah Tuhan, pak Tua sedang melihat Tuhan. Pak Tua melihatnya setiap saat. Sejelas kulihat wajahmu. Sejelas itu pula kulihat wajah-Nya.sekedar untuk mengerenyitkan dahi kita.

Salam, semoga kita selalu dalam lindungan Nya.

kadis_ btg

October 5, 2007

Antara Padi, Beras dan Ketupat Lebaran

Filed under: Qolbu

dikutip dari milis dzikir
( Sebuah kiasan tahap pembebasan diri pejalan Tauhid atas manisnya godaan kemasyhuran )

Judul ini adalah sebuah asosiasi dan pecahan berbagai nama dari asal satu zat atau satu benda saja. Layaknya sebuah proses ketauhidan yang mempunyai istilah ahad, ahadiyah, wahidiyah, wahdaniyah, semua hanyalah bermula sebagai sebuah pengkotakan untuk memudahkan positioning diri. Yaitu dimanakah sesungguhnya letak perhentian kita.

Sesuai hukum waktu siang malam beserta cuacanya, padi mulai dapat diolah dan berguna bila ia mampu melewatinya dengan sebuah ketegaran daya tahan. Uniknya ketegaran sang padi bukanlah ketegaran jago silat yang selalu pasang kuda -kuda dengan kepala sedikit terangkat ke atas beberapa centimeter. Kematangan padi mudah dilihat dengan ketundukan posisi dan kemudahan memetiknya. Kemudian pada tahap metamorfosa selanjutnya mau tak mau padi juga wajib meninggalkan kulit walaupun si kulit begitu menggoda dengan warna keemasannya. Tak lain agar diketahui kualitas isi sesungguhnya. Apakah bulir padi itu keropos, bulat bersinar, atau buram.

Bila telah terkelupas kulitnya, otomatis padi berubah nama menjadi beras. Godaan semakin besar. Ketika padi menampakkan diri menjadi beras yang bersih bersinar, banyak sekali orang berebut untuk memilikinya. Bahkan para tengkulak alias pembesar mengkooptasi kepemilikannya. Sehingga jauhlah manfaat beras atas hajat hidup orang banyak. Melalui proses marketing ekonomi modern, beras yang sebenarnya berkualitas sama saja, dikemas dengan berbagai macam merk berbeda dengan harga berbeda pula sesuai pemetaan daya beli konsumen. Adakalanya sang beras terseret halus ke-GR-an terhadap rumusan rating popularitas semacam ini. Tapi begitulah adanya…. memang hukum pasar itu begitu menyihir kita sehingga tak terasa daya berfikir ini jadi sedikit aneh.

Sejurus setelah para konsumen mengantri beras dan berandai -andai memetik manfaatnya, tibalah saatnya kualitas beras itu dibenturkan dengan kenyataan proses realitas manfaat ke depan. Memang hak penuh konsumen mencocokkan manfaat yang masih di dalam buah pikiran untuk diteruskan menjadi manfaat pada tataran hidup keseharian. Beras itu kemudian dipupusi ( di cuci ) dalam kubangan air, diremas-remas, diputar-putar, diaduk-aduk untuk membuang debu kerikil dan kutu yang masih terselip. Pastilah tidak enak diobok-obok seperti itu.Tetapi apa daya beras tetap harus bersedia eksis terhadap berbagai gesekan dalam air agar mampu menjadi makanan yang benar-benar bermanfaat dalam wilayah keseharian.

Tahap selanjutnya adalah tahap paling tidak mengenakkan pada diri beras. Untuk menjadi manfaat, untuk merubah diri menjadi nasi, ia wajib memasuki kawah chandradimuka yang begitu panas. Panci soblukan penanakan. Ia harus berhadap-hadapan selama beberapa waktu dengan kekuatan kezaliman api, kekuatan lidah api, kekuatan gonjang -ganjing yang mendidih dari api neraka yang bahannya berasal dari batu dan manusia . Batu adalah perlambang kerasnya hati, manusia atau dalam bahasa Jawa disebut manungso (manunggaling rumongso) adalah perasaan berdaya yang begitu lekat. Ia pun harus mau merasakan dan berteman dengan kepengapan, keterbatasan gerak, dan kegelapan yang menyelimuti. Agar ketika tutup dandang ( panci untuk menanak nasi ) dibuka pada waktu yang telah ditentukan, tampaklah cahaya sejati yang terang tak terbantahkan. Minadzdzulumati ilannuur….

Dan berhaklah beras disebut dirinya nasi. Bila saja sang beras melarikan diri dari panasnya api, pastilah beras cuman menjadi nasi akas alias nasi yang setengah matang. Nasi yang hanya bikin perut mulas. Seolah kenyang mengkonsumsinya namun tiba -tiba semua pada antri ke toilet dengan perasaan gaduh dan saling tidak sabar.

Memang tak mudah perkara beras yang ingin menjadi nasi.

Seperti dalam milis ini, semua tanpa terkecuali berada pada wilayah penampian beras dan penggodokan agar kelak ketika masanya telah tiba, segala persilaturahmian sambung rasa ini akan mudah dipersembahkan menjadi makanan yang enak dan sehat. Tentu saja hal ini pasti akan terjadi bila kita tetap memakai filosofi keindahan bungkusan kotak-kotak hijau menguning yang saling berpilin, atau biasa disebut ketupat. Semua tetap pada wilayah kekotakannnya namun mampu bekerja sama melingkupi membungkus sebuah isi nilai Islam dengan tata cara keindahan akhlak yang selalu terjaga .

Warna hijau kekuningan adalah warna sebuah kematangan. Hijau adalah perlambang hidup, kuning adalah perlambang kejayaan. Dan sesungguhnya sebuah kejayaan Islami adalah sebuah kejayaan yang mampu menghargai segala sesuatu yang hidup. Atau tepatnya yang dihidupi. Yang tentunya semua berasal dari Yang Maha Hidup. Innalillaahi wa inna ilaihi raa jiuun. Semua berasal dari Allah dan ada kesadaran untuk mengembalikan hak hidup dan menghidupi kepada Allah semata.

Inilah sebuah lebaran sesungguhnya yang dinantikan semua umat muslim. Lebaran yang berarti lebar dan luas. Ikhlas dan merdeka. Yang berarti telah terbebas dari keterjajahan konsumerisme kilau kemapanan kemasyhuran dunia, merdeka dari istilah kata-kata yang kelihatan keren dan rumit namun niatan ujungnya hanya itu-itu saja, merdeka dari penjajahan konsep pikiran serta terbolak - baliknya qalb, merdeka dari tebang pilih menasehati orang kaya miskin berdasat fee, merdeka dari penilaian pandai bodoh, merdeka dari kemerdekaan menghindari konflik alias merdeka dari kata merdeka itu sendiri.

Itu semua tak lain agar berakhir dengan kemerdekan bermesraan bersanding dengan Allah. Sesuatu yang sesungguhnya sangat pribadi dan tak mungkin dapat dicampuri ataupun digugat orang lain. Sebab sesungguhnya Allah akan marah atau mengistidraj bila kita berani mengusik rahasia kekhusyukan antara hamba dengan Sang Khalik. Bagaimana tidak ? wong kita saja kalau punya rahasia yang sangat pribadi lalu ada orang lain menyebarkan kepada umum pasti kita akan marah. Negara pun demikian adanya. Pasti penyebar rahasia itu dihukum berat. Apalagi ini rahasia Allah.

Nukilan ayat “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Adz Dzaariyaat 51 : 56) bila digandengkan dengan ayat “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar (Al Ankabut 29 : 45) , adalah sebuah kejelasan proses metamorfosa dari tahap benih, padi, beras, nasi dan akhirnya menguap menjadi energi hidup yang kemudian membumi lagi menjadi benih kembali. Dan semoga kita semua di anugerahi nyali untuk menuntaskan semua proses ini agar tidak tidak terhenti setengah-setengah yang akhirnya beras bukan nasi pun bukan, tak jelas namanya, tak jelas manfaatnya.. ..samar alias jin, yang bikin majnun, karena tak sadar kalau masih terhenti pada ajna ( dahi ) alias persangkaan - persangkaan diri.

Akhir kata, walaupun selama ini saya tidak pernah mengenal dan mengikuti pelatihan - pelatihannya Pak Abu Sangkan dan Pak Deka ataupun mengenal para penghuni milis ini secara “kopi darat”, namun dibalik semua itu ternyata sudah terlanjur terjadi sebuah sambung rasa ikatan bathin yang luar biasa. Tentu saja secara sunatullah akan terbentuk sistem kecintaan dan kecemburuan. Ketulusan kepercayaan dan kecurigaan. Untuk itu mohon maaf lahir bathin atas segala kesalahan cara berkomentar dan tulisan -tulisan yang pernah saya sampaikan dalam milis ini. Semoga semua saudara di sini memafkan kesalahan saya pribadi agar sepuluh malam terakhir ini akan lebih membuka cakrawala bathin ketauhidan yang tak berbatas. Selamat berlebar - lebaran….. semoga selalu lebaaa…rrrr. ….

Wassalam, semoga bermanfaat
Dody Ide

September 13, 2007

PESAN RAMADHAN 1428 H

Filed under: Qolbu

Sahabat, tak terasa Ramadhan sudah menghampiri kita kembali dengan kecepatan yang mencengangkan. Rasanya baru kemarin kita selesai menjalankan ibadah Ramadhan dan sekarang kita sudah dijambangi lagi oleh bulan yang mampu mengantarkan kita ke detik-detik pencapaian fitrah. RAMADHAN

Berkali-kali kita sudah diberitahu, bahwa ada suatu waktu di dalam bulan Ramadhan itu yang nilainya tak terperkirakan. Itulah malam LAILATUL QADAR. Banyak cerita yang sampai ke kita tentang kehebatan malam itu, tentang pengalaman-pengalam an orang yang sangat mengherankan kita. Namun berkali-kali pula kita merasa bahwa bagi kita ternyata malam itu hanyalah biasa-biasa saja, kalau tidak mau dikatakan hambar. Kita pun sepertinya tidak disentuh oleh pengalaman yang akan mampu meningkatkan kualitas diri kita sebagai umat manusia.

Walaupun untuk itu usaha kita juga sudah kita tingkatkan dengan sangat signifikan. Ibadah, dzikir, shalat malam, membaca Al Qur’an, pengajian, tidak banyak tidur semalaman, dan amalan baik lainnya sudah kita kita lakukan secara berlebih dari hari-hari biasanya. Dan itupun sudah kita lakukan selama bertahun-tahun untuk setiap Ramadhan. Namun kita masih tetap termangu-mangu melihat pencapaian puasa kita. Duh, ada apakah gerangan penyebabnya ???.

KESAKSIAN RUH

” ….. tanazzalul malaikatu warruuhu fiiha biidznirabbihim min kulliamri … , … pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala sesuatu …..”

Ternyata lailatul qadar adalah sebuah malam yang dimensinya adalah alam Ruh. Hanya ar-Ruh lah yang mampu melihat para malaikat, hanya ar-Ruh pulalah yang mampu melihat alam ruhani. Pantas saja kita selama ini tidak mampu mendapatkan pengalaman-pengalam an malam seribu bulan ini. Karena kita selama ini ternyata ingin menyaksikannya dengan memakai mata, telinga dan rasa kita. Kita telah memakai alat yang salah untuk menyaksikan keluarbiasaan lailatul qadar itu.

Oleh sebab itu, wahai para sahabatku, marilah kita persiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk memasuki bulan Ramadhan 1428 ini. Sejak sekarang, kita bersihkan dada kita sehingga dada kita itu menjadi bening. Dada yang bening itulah sebenarnya yang akan menghantarkan kita untuk bisa terbang tinggi melampau emosi kita, melampui pikiran kita, melampaui alam semesta. Luas tak terbatas, diatas semua rasa, diatas semua pikiran

Puasa yang berbuah adalah puasa yang mampu membangkitkan kesadaran kita untuk memisahkan keberadaan kita dengan diri kita. Sebab kita semata-mata adalah semurni-murninya ar-Ruh. Sedangkan diri kita sendiri tak lain dan tak bukan hanyalah saripati tanah yang sudah dibentuk dengan sangat sempurna oleh Allah untuk kita pakai dalam menjalankan segala atribut kekhalifahan kita dimuka bumi ini.

Kalau sudah begini, maka saat itu sebenarnya kita telah berada di alam ruhani yang mampu pandang memandang dengan Allah, bisa saling mendoakan dengan Nabi-nabi dan hamba-hamba Tuhan yang shaleh. ALAM TAHIYYAT Sehingga kitapun berhak untuk menyatakan kesaksian kita kepada Allah dan Rasulullah, SYAHADAH

Lalu dengan penuh kegembiraan, kita bersama-sama dengan para malaikat bisa turun kembali kebumi, ke alam saripati tanah, ke alam diri kita sendiri untuk mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas pokok kita di muka bumi ini. Yaitu untuk memakmurkan bumi dan segala isinya, serta untuk membentuk peradaban kita sendiri dengan sebaik-baiknya.

Semua tugas itupun bisa kita lakukan dengan rasa bahagia yang amat sangat, karena kita sudah dibekali pula oleh Allah dengan modal dasar yang sangat melimpah. Ada keselamatan, ada rahmat, ada berkat dari Allah untuk kita tebarkan bagi seisi bumi dan bagi sesama.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1428 H.

Assalamu’alaikum warah matullahi wa barakatuh

Jakarta 12 September 2007

Abu Sangkan …
Deka …
Mardibros …
A Manaf

August 23, 2007

Kisah Si Ahli Bid’ah

Filed under: Qolbu

Aku adalah si ahli Bid’ah
Aku adalah muslim yang suka mengada-ngadakan peribadatan
Aku adalah muslim yang merasa lebih pintar dari Rasulullah
Begitulah yang sering dikatakan sebagian teman-teman muslimku.
Dan orang seperti aku adalah di neraka kata mereka.

Aku dilahirkan dalam keadaan amnesia. Tidak mengenal siapa-siapa.
Aku diperkenalkan kepada Islam oleh orangtuaku, guruku, dan teman-temanku
Aku lebih dahulu mengenal Islam daripada mengenal Allah.
Setiap peribadatan yang aku lakukan berlandaskan ancaman akan neraka dan akan dibalas dengan kenikmatan surga
Aku sering paranoid dan waswas
Apakah aku termasuk yang selamat
Setiap hari aku beribadah untuk aku tukar dengan surga
Aku baca Allahuma Ajirnaminannarr supaya tidak dibakar api neraka

Sering aku berganti pengajian karena semua memberikan dalil kebenaran
Mana yang sanggup memberi ancaman yang paling mengerikan itulah yang aku ikuti
Semua mengaku yang dipilih sedang kelompok lainnya sesat.
Semua mengatakan satu-satunya dari yang 73
Aku mulai bingung, aku mulai goyah
Ribuan zikir, doa, dan quran aku baca
Bukan semakin tenang namun semakin tertekan

Ya Allah aku ingin menggapaiMu, namun mengapa begini berat
Jalan keselamatan satu-satunya adalah mengikuti Rasulullah Muhammad
Lahir atau batin? Kedua-duanya
Aku baca sirah, aku baca kitab fiqih
Duhai beratnya……..
Mengikuti semampunya dibacakan ayat : Masukilah Islam secara kaffah, Islam telah sempurna…, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah…..duhai karena inikah banyak yang lari dari Islam.

Bagaimana aku lepas dari itu, dengan kefakiran dan keterbatasanku
Aku berbicara bahasa bukan Arab, aku sholat di atas sejadah bukan di atas tanah, aku cenderung mencari sholat jumat berbahasa Indonesia bukan Arab, aku terkadang sholat Jumat di aula, lapangan parkir. Aku menyimpan kelebihan hartaku di Bank untuk menjaga masa depanku daripada menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, aku naik motor, naik mobil, naik pesawat. Aku lebih suka menenangkan diri dengan rekreasi daripada memperbanyak sholat malam dan zikir. Karena memang zikir dan sholatku hanya sarana transaksi kepadaMu, tidak ada kerinduan untuk bertemu denganNya, aku tidak berpoligami meski mampu, aku sholat tarawih di mesjid bukan di rumah, aku memakai jins bukan jubah, aku bekerja di kantor, aku menerima upah, aku pergi sekolah dan menyekolahkan anakku……dan sederetan kelakuan bid’ah yang lain. Ketika aku tanya kepada ulama A maka ia mengatakan ini boleh, saat aku konfirmasi kepada ulama B maka ia mengatakan itu haram. Semua menggunakan dalil semua menggunakan ayat…Aku semakin tenggelam dalam kebingungan ….untunglah Allah engkau tidak seperti mereka….

Engkau diam saat aku bermaksiat.. ..
Engkau sangat sabar saat aku menyimpang.. .
Engkau tidak menuduhku meski aku hianat….
Engkau bimbing aku dengan sholat dan zikir meski kemalasan melanda…..
Engkau berikan aku ketenangan dengan ayat-ayatMu

Ya Allah ampuni ahli Bid’ah ini, yang melaksanakan kurang dari 0,00001 % perilaku NabiMu yang mulia. Engkau amanatkan aku sesuatu yang berat, dan aku tidak dapat berbuat seperti saudara-saudaraku itu, karena seperti kata mereka aku telah dijerat oleh hawa nafsu. Aku hanya dapat berserah, aku serahkan kepadaMu, aku lelah, aku lemah, aku tak berdaya……

Wahai teman-temanku, doakanlah saudaramu yang tersesat ini, supaya dibukakan pintu hidayah, dan dikembalikan ke jalan lurus yang benar, doakan aku supaya dapat bertemu Allah sepanjang hidupnya, karena doa yang aku butuhkan darimu lebih dari sekedar kata-kata.

June 18, 2007

Strategi berperang melawan musuh

Filed under: Qolbu

dicopy paste dari milis dzikir
Untuk berperang melawan musuh, maka kita harus dapat melihat dan mengenal karakter musuh kita. Selama ini kita sering berperang namun tanpa melihat siapa sebenarnya yang diperangi dan dengan senjata apa. Ibarat berperang, membawa aneka senjata yang canggih namun dengan mata tertutup dan menembakkan dengan arah yang tidak tepat. Selama ini kita banyak membaca dan belajar tentang hawa nafsu tetapi kita lupa bahwa musuh besar kita yaitu iblis terus mengembangkan strategi tempur, metode, kecanggihan teknologi dll. Sedangkan kita masih menggunakan strategi yang sama dari tahun ke tahun, dengan alasan klasik, sesuai sunah dan di luar itu adalah bid’ah. Menjalani agama dalam bentuk luar saja dan meninggalkan esensi/hakikat/ value/nilai yang di dalamnya mengakibatkan musuh mudah menyusup ke diri manusia melalui pintu hawa nafsu dan hawa nafsu menjadi penguasa diri seorang manusia. Ibarat virus rabies yang telah menyebar ke seluruh tubuh hingga otak dan menjadikan orang yang dikuasainya menjadi gila.

Dalam buku Al-Hikam, Ibn ‘Atha’illah (1350 M) menuliskan :
“Inti dari segala maksiat adalah lupa kepada Allah dan syahwat yang berasal dari nafsu adalah rela menuruti hawa nafsu. Dan inti dari keta’atan, kesadaran dan menjaga diri dari syahwat adalah tiada kerelaanmu menuruti hawa nafsu. “

Nafsu melekat dalam diri setiap manusia, ia adalah amanat dari Sang Pencipta. Karakternya mengikuti perkembangan dari diri seorang manusia. Siapa bisa mengenalinya maka dia menungganginya dan mengendalikannya menurut perintah Sang Pencipta. Namun siapa yang dikendalikannya maka sesungguhnya ia telah ingkar dari Sang Pencipta. (Q.S Yusuf :53)

Seperti saya pernah bercerita sebelumnya, nafsu saya ibaratkan anjing, setiap orang memiliki fitrah ini memegang seekor anjing. Anjing ini liar, maka kita sebagai tuannya yang harus mendidik. Masalahnya banyak dari kita yang belum dapat melihat kondisi ini. Kita masih melihat nafsu, jasad, akal, jiwa, ruh, adalah bagian yang tunggal dan tidak dapat dipisahkan, pada hakikatnya komponen ini saling berebut menguasai diri manusia. Ini yang sering kita sebut dengan perang batin dalam menghadapi suatu masalah. Jiwa, akal, nafsu, hakikatnya harus dipimpin oleh ruh. Ruh selalu menyeru untuk taat kepada yang meniupkan ruh. (Shaad: 72), artinya ia selalu menyerukan kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah.

Ibn ‘Atha’illah membagi nafsu amarah (yang menyeru kepada kejahatan) menjadi 7 macam, Imam Gazali menerangkan lebih mendetail dalam kitab Ihya. Syahwat, marah, sombong, dengki, merasa utama dari lainnya, tamak, riyaa’, Ya beliau ternyata hanya membagi penyeru kejahatan hanya 7, ini adalah sumber dari semua bentuk kejahatan yang dilakukan oleh manusia dan sering disebut dengan penyakit hati.

Saya mencoba melihat karakter 7 macam nafsu amarah ini (yang saya ibaratkan anak-anak anjing dan setan sebagai srigala lapar) ke dalam kejadian sehari-hari yang saya alami, yaitu: Pesta perkawinan. Yah saya mengambil contoh suatu acara yang secara fiqih hukumnya wajib (memenuhi undangan), mubah (diperbolehkan) . Dan Insya Allah kejadian berikut hanya ada pada diri saya sendiri:

1. Saat pertama menerima undangan maka sombong, dengki, dan merasa lebih utama, mendorong kita untuk bergibah tentang tokoh dalam undangan: dalam bentuk obrolan keluarga, telepon, layaknya infotainment.
2. Pada saat hari H, maka yang terbersit dalam diri saya adalah saya harus tampil dengan baju terbaik, kendaraan terbaik, parfum terbaik, aksesoris terbaik, dimana ini tidak lain adalah karakter dari si riyaa’ yang mendorong saya melakukan sesuatu bukan karena Allah. Bahkan sayapun tidak pernah mencoba berpenampilan seperti itu kepada istri saya. Untung saya laki-laki, kalau perempuan mungkin lebih berat, karena mereka hanya diwajibkan dandan dan menampakkan perhiasan di depan suaminya?
3. Saat melihat ruangan yang megah, si dengki keluar, karakter dengki seperti kata Aa’ Gym adalah senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang. Hati menjadi keruh.
4. Saat melihat hidangan terhampar, si tamak dan si syahwat mulai keluar, nanti kamu harus makan ini, itu, ini itu, dengan jumlah segini segitu.
5. Saat melihat wanita yang mengumbar aurat, si syahwat mulai membuai dan menggelora. Hati sudah mulai kotor, dan kadang imajinasi lebih berani lagi. astaghfirullah. Tampak luar tidak ada satupun syariat yang dilanggar, di dalam, hati sudah ibarat septic tank.
6. Si sombong, si lebih utama, si dengki tidak mau kalah mengomentari pengantin, tamu, hidangan, acara dan lain-lain. ..jelek amat yang cowoknya, jelek amat ya ceweknya, ngga mecing banget sih dandanannya, makanannya dikit amat, gak berkualitas, acaranya bosenin, bla..bla..bla.
7. Saat sebagian tamu sudah dipersilahkan menyalami mempelai sebagian tamu antri, dan sebagian lagi sudah menyerbu hidangan. Si riyaa’ yang terbungkus dalam kemasan jaim melarang saya untuk mendekati hidangan, ingat kamu harus jaga imej, jangan kaya orang kelaparan! Jadi saya tidak menyerbu hidangan karena imej bukan karena mengekang diri dari tamak dan syahwat.
8. Saat antri salaman ada orang nyrobot antrian, si marah mulai terusik, mulai memaki dalam diri, ini orang kampung banget sih, baju bagus kelakuan kampung banget. Apalagi kalau antrian dihentikan karena ada pejabat hampir semua nafsu amarah keluar: ini nih yang bikin rusak negara, kaya apa sih tampangnya, hmmm…dekil, pendek, gendut perutnya, banyak makan uang rakyat sih.
9. Saat antri makanan terutama kambing guling demikian juga, melihat orangtua mengambil makanan banyak si dengki, si marah, si sombong mulai memaki, ini orangtua mau mati aja pake banyak makan, stroke baru rasa loe……astaghfirullah

Demikianlah 7 nafsu amarah yang, saya bandingkan dengan kejadian yang saya rasakan dalam suatu undangan perkawinan. Ini baru undangan perkawinan, dimana dari menerima undangan sampai pulang tidak ada pelanggaran fiqih yang biasa kita sebut sebagai kemaksiatan, namun dilihat dari hakikatnya maka kemaksiatan hati tersebut juga akan diperhitungkan oleh Allah. Astaghfirullah, ampunilah aku atas perbuatanku di atas wahai Pemilik Semua Ampunan.

284. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki- Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki- Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah : 284)

Jadi saat kondangan saya selalu hanya terfokus pada pelaksanaannya saja, pakai pakaian yang paling sederhana untuk acara pernikahan, kalau acara pagi, sarapan secukupnya, kalau siang, makan siang dulu secukupnya, kalau malam, makan malam secukupnya, lho kan mau makan-makan? Tidakkkkkk…. saya bukan mau makan2 saya mau memenuhi undangan. Datang, bersalaman, makan sekedarnya, langsung cabuttttt. Juga buat yang akan hajatan maka hendaknya memperbanyak acara yang bersifat dzikrullah, tamu undangan sebagian besar adalah anak yatim dan fakir miskin, biar semua nafsu amarah kecewa.

Dengan kejadian di atas saya menjadi lebih waspada. Setiap yang keluar dari dalam bentuk bisikan dalam jiwa saya perhitungkan, siapa ini yang bersuara? bagaimana koridor syariatnya? Kalau sah, halal, mubah, bagaimana hakikatnya? Bila bingung tinggal ambil air wudlu, sholat mutlak/istikharah, serah terima masalah kepada Allah, dan biar Allah yang menjadi pengambil keputusan. Saat menulis inipun si riyaa’ melompat, si lebih utama juga ingin menonjol. Innalilahi wa innailaihi raji’un. Wallahualam.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer